Trip to Korea 2017


Halo lagi, Korea!

Setelah tahun lalu mendapatkan tiket promo Air Asia yang lumayan (2.800.000 IDR PP) akhirnya Hari-H tiba. Papa sempat pakai acara tidak mau berangkat karena kejadian ini. Namun, syukurlah papa sudah sehat dan bisa melakukan perjalanan jauh.

Note for myself:

Bagasi berangkat sekitar 14kg/orang

Bagasi pulang sekitar 16,5kg/orang

2017-04-28 17.46.08

Berbekal pengalaman terdahulu yang bisa jadi pedoman, sudah tidak terlalu banyak persiapan yang harus dipelajari terkait rute. Selasa, 18 April 2017 malam berangkat dari Soetta dan tiba Rabu, 19 April 2017 di Incheon. Hal pertama adalah membelikan ortu kartu transport yakni T-Money. Keluar dari pintu arrival, saya mencari-cari toko alias convenience store  yang ada jualan T-Money. Harganya 4.000 KRW (saat itu kurs Won 12,5). Selain beli, bisa sekalian top-up di kasirnya.

FYI: Jika tidak bisa menemukan convenience store, T-Money juga bisa dibeli di dispenser otomatis saat sudah turun ke level B1

Selesai urusan di bandara selesai, berikutnya adalah perjalanan menuju ke Paradisetel. Untuk perjalanan selama 5 malam, kami sudah menyewa apartment di Hongdae lewat Airbnb.

Dapatkan credit dengan referral code Airbnb ini

Bagi kalian yang firt-timer, cukup ikuti papan petunjuk menuju Railroad. Kita akan naik all-stop train menuju ke Hongdae karena lebih murah sekitar 4.050 KRW dengan jarak kurang lebih 1 jam. Kenapa memilih Hongdae? Karena memang dari dulu suka dengan tempat ini, selain itu lokasinya cukup nyaman dan strategis, dan dilewati railroad dari dan ke airport tentu akan lebih mudah. Mau shopping dan jalan/jajan kuliner malam? Tinggal menyeberang ke arah exit 9. Mudah!

Paradisetel tempat kami menginap berada di exit 1 sangat dekat dari stasiun subway. Begitu exit, jalan beberapa langkah akan langsung tiba. Jika memang mau menghemat tenaga atau bawa orang tua biar nggak capek, rasanya cocok menginap di sini. Saya pribadi orangnya lebih suka mencari tempat yang dekat dengan stasiun agar tidak buang waktu dan tenaga selama perjalanan.

Oh ya suhu udaranya sendiri berkisar 11-12 derajat celcius di hari pertama tiba. Suhu juga sempat menginjak 20 derajat saat hari-hari berikutnya. Karena spring tiba lebih awal tahun ini, maka cherry blossom sudah berguguran. Untuk kostum pakaian cukup dengan jaket dan sweater serta celana panjang agar tidak kedinginan. Tidak perlu coat ataupun long john lagi 😀

Selama perjalanan, papa sering banget diajak berinteraksi. Mungkin mukanya terlalu friendly kali ya.. Diajak ngobrol sama ajushi soal Mantan Presiden Soeharto, politik, dan negara Indonesia, diminta tolong motret rombongan wisatawan, diajak ngobrol sama bule yang ngantri di Shake Shack. Haha..

Seperti biasa, saya akan memberikan itinerary per hari secara padat, singkat, dan jelas terutama untuk info station dan exit.

Itinerary

Day 1

Sebelum check-in, kami makan dulu di blakang Paradisetel. Sekedar untuk mengisi perut saja, jadi bukan mencari menu dan rasa.

“Yi mu, kimchi jjigae han gae, dubu jjigae du gae juseyo!” Kalau hanya sekedar memesan makanan gampang lah. Everything is under control. Pe-De mode on 😀

Bagi first timer juga, jangan heran kalau di restoran Korea biasanya memang pesannya per porsi. Jadi kalau berempat, ya pesannya disuruh 4 porsi, nggak kayak kita di sini terbiasa ngirit makan berempat pesannya 2 menu haha..

Insadong: Anguk Station (Seoul Subway Line 3) Exit 6

Tujuan pertama! Dari exit jalan saja di kiri jalan sudah ada lapak-lapak yang menjual aksesoris dan merchandise untuk oleh-oleh seperti kaos kaki, tas, gantungan, dan lain-lain. Tipsnya kangan langsung beli barang di toko pertama yang kamu masuki tapi coba ke toko-toko berikutnya, karena bisa jadi jualan barang sama dengan harga lebih murah.

Seokchon Lake: Jamsil Station (Seoul Subway Line 2 and 8), Exit 2 or 10. Walk approx. 200m to Seokchonhosu

1.jpg

Bye.. Cherry Blossom

Sekalian ada di Jamsil station, kalian juga bisa window shopping di sini. Kalau di Seokchon Lake, tempatnya untuk menikmati cherry blossom, namun sayangnya saat ke sana, musim cherry blossom sudah berakhir. Hanya ada sedikit sisa warna pink. Pas ke sini, jalannya cukup jauh sih memutarnya. Melewati Lotte World. Berhubung hunting cherry blossom sudah terlambat, di sini juga ada pohon autumn sih, lumayan lah foto-foto serasa autumn.. Oh ya, kalau ada yang ingat atau tahu keberadaan giant rubber duck di Seoul, sekarang kalian bisa foto dengan si keluarga angsa putih yang akan mengapung di danau hingga awal Mei ini. Serta new icon Lotte Tower.

Tempatnya cakep. Cocok buat santai sore-sore ditemani angin sepoi-sepoi (baca: ditemani suhu 11-12 derajat yang dingin brrrr..) 

Day 2

Yeouido Park & Hangang Park: Yeouido Station (Seoul Subway Line 5), Exit 3.
Walk 5 minutes towards the National Assembly building.  Yeouinaru Station (Seoul Subway Line 5), Exit 2 or 3.

Yeouido Park juga dikenal sebagai tempat hunting cherry blossom. Tempatnya sendiri lumayan luas dan ada banyak bangku untuk duduk bersantai. Dari sini bisa ke Yeouido Hangang Park yang berdekatan posisinya. Kalau di Yeouido Hangang Park, kita bisa duduk-duduk ala piknik menikmati view sungai dan burung-burung beterbangan.

Myeongdong: Myeong-dong Station (Seoul Subway Line 4), Exit 5/6

Jujur saya bukan penggemar Myeongdong sih. Nggak terlalu cocok jenis shoppingnya dengan diri saya. Mungkin kalau di sini rasanya cocok kalau belanja kosmetik dan jajan-jajan. Bukan baju-baju fashion. Kalau preferensinya beli baju fashion di mana? Nanti akan dibahas di hari berikutnya, ya.. Kebetulan sekali pas ke sana sedang ada kampanye tim sukses perwakilan nomor 1 capres Moon Jae In yang dengar-dengar merupakan kandidat kuat.

PHOTO_20170420_165708.jpg

Yoogane dengan Dak Galbinya yang Enak

Lotte Mart – Seoul Station  Branch: Seoul Station (Seoul Subway Line 1, 4), Exit 1

Belanja makanan! Mulai dari Market O Real Brownie, Binch, Choco Pie, Crunky, aneka Ramyeon, dan lainnya. Jangan lupa lihat-lihat penawaran kalau-kalau ada promo 1 Plus 1 atau 2 Plus 1. *Selain di Lotte Mart, di Seoul juga ada Daiso. Yang aku ingat ada di dekat Gangnam Station dan dekat Dongdaemun maupun di dalam underground subway station.

Day 3

Nami Island & Garden of Morning Calm

Sebelumnya dulu saya pergi ke sana pakai subway. Nah kali ini mau coba ITX.

Kita sudah beli tiket ITX secara online di web pilih direct dari Yongsan to Gapyeong pakai ITX Cheongchun. Sekitar 4.800 KRW dan 1 jam perjalanan.

You could actually take the first train from Yongsan station or from Cheongyanni station.

Nah, sesuaikan dengan jadwal schedule yang kalian pilih. Waktu itu kami pilih Pk.10.00. Ternyata pas hari-H semua pada bangun pagi-pagi dan jam 9.00 kurang pun sebenarnya sudah tiba di Yongsan. Dari blog yang saya baca, katanya tiket online yang diprint harus ditukar dengan tiket asli dengan menunjukkan paspor asli. Tapi nyatanya saat ke counter ticket di sana, kata petugas, tidak perlu tukar lagi karena yang diprint online itu sudah berupa ticket.

Di Yongsan, carilah platform ITX Cheongchun. Di sini perhatikan nomor kereta yang akan kalian naiki. Jangan sampai salah naik kereta ya. Karena keretanya ITX bukan kereta biasa. Ada seat number juga.

3c.jpg

Bunga di Mana-Mana

Tiba di Gapyeong Station, langsung keluar ke halte bus di depan station. Kalian akan mudah menemukan halte shuttle bus tersebut karena akan banyak orang antre. Biaya 6.000 KRW untuk PP semua rute sampai ke Garden of Morning Calm. Perhatikan jadwal dulu! Karena kalau telat bisa-bisa harus menunggu 1 jam untuk bus berikutnya! Jika kalian cuma mau ke Nami Island saja, tidak ke Petite France atau Garden of Morning Calm, jaraknya ke Nami cukup dekat jadi bisa naik taksi, sehingga tak perlu nungguin antrean shuttle bus schedule.

3a.jpg

Garden Calm

Nami Island: Tiket masuk 8.000 KRW – Garden Calm: Tiket masuk 8.000 KRW

*Ambil buku kupon diskon di depan lokat information Gapyeong Station atau download online di sini untuk mendapatkan harga diskon tiket ke beberapa destinasi tertentu.

Sempat pakai acara drama mabok darat selama di bis perjalanan ke Garden of Morning Calm karena memang jalur di sana memutar berkelok menanjak ke atas gitu. Terus yang bawa bus juga kayaknya terlalu bersemangat sehingga berasa mabok daratnya. Dan byurr sampai di Morning Calm langsung cuss ke toilet mengeluarkan muntahan ramyeon hasil makan siang. Padahal dulu pas ke sana perjalanan fine-fine saja. Mungkin aku sudah makin tuaaaa..

Pastikan kalian perhatikan sesuai schedule bus ya. Jangan sampai ketinggalan. Kalau bisa malahan (wajib bisa) sebelum jamnya harus sudah antre. Jangan lupa waktu seperti kami pas balik-balik pas sekali dengan jadwal bus berangkat. Karena busnya sangat on-time, jam 16.00 kami pas tiba di bus stop eehh.. jam 16.00 juga busnya mulai jalan. Byeeee.. ditinggal deh. Jadi nunggu bus berikutnya.

Pulangnya nggak naik ITX lagi tapi subway dari Cheongpyeong Station ke Hongik University Station dengan 1 kali transit. Perjalanan yang jauh jadi carilah tempat duduk biar tidak kelelahan.

Day 4

Gyeongbokgung : Gyeongbokgung Station (Seoul Subway Line 3), Exit 5

One of must-visit for first timer. Gyeongbokgung dan Gwanghwamun sepertinya list yang paling typical ya..

4a.jpg

Gyeongbokgung

Bukchon Hanok Village, Samcheongdong, National Folk Museum of Korea: Anguk Station (Seoul Subway Line 3), Exit 2

Dari Anguk Station harus berjalan mengikuti google maps menuju ketiga tempat ini. National Folk Museum of Korea adalah tempat yang tidak ada dalam rencana perjalanan, ditemukan tanpa sengaja ternyata tempat ini menyimpa spot-spot foto yang unik. Bergaya kembali ke era masa lalu, kita bisa puas berfoto dengan gratis.

Trouvaille (n)

Origin: French

Something lovely found by chance.

Dongdaemun Design Plaza & Dongdaemun Market: Dongdaemun History & Culture Park Station (Seoul Subway Line 4), Exit 1 & 14

Dongdaemun Design Plaza tempat foto-foto OOTD yang instagrammable, bunga-bunga LED yang iconic, serta Dongdaemun market di seberangnya exit 14 mengantarkan kita ke pertokoan seperti Migliore dan Hello apM yang lebih terjangkau dibanding Doota Mall. Oh ya, di sini ada Shake Shack juga. Franchise burger yang sedang hits. Tapi kita akan makan yang cabang Gangnam besok ya.

Kebetulan saat ke sana ada Seoul Dokkaebi  Night Market yang diadakan di area DDP juga. Bisa ketemuan sama Kakao Friends juga.

do.jpg

Di area sekitaraan Dongdaemun Market juga banyak jajanan enak nan menggugah selera.

20170423_185833.jpg

Odeng Hana, Sosiji Hana

Hongdae: Hongik University (Seoul Subway Line 2), Exit 9

Pusat keramaian anak muda dan pertokoan Hongdae ada di exit 9. My Fav! Untuk barangnya sih memang cenderung agak mahal. Lebih cocok untuk jalan-jalan malam dan jajan malam di berbagai pojangmacha dan menikmati pertunjukkan pinggir jalan mulai dari nyanyian, rap, dance, dll. Bisa ketemuan sama Kakao Friends juga. BBQ time!

hongdae.jpg

Hongik dan Malam

Day 5

Gangnam: Gangnam Underground & Shake Shack: Gangnam (Seoul Subway Line 2) Exit 11

ssh.jpg

Wisata Kuliner

Tiba di Shake Shack pk. 10.40 dan antrian sudah lumayan panjang. Pas pk.11.00 antrian sudah mulai masuk dan karena cukup luas, jadi bisa memuat banyak orang. Untuk rasanya sendiri menurut lidahku ini biasa saja.

SS.jpg

Shake Shack Gangnam

Sedangkan untuk shopping di dalam station yakni di Gangnam Underground. Harga rata-rata 5.000 – 10.000 KRW. Cukup bersahabat di kantong kan..

Garosugil: Sinsa Station (Seoul Subway Line 3) Exit 8

Sederet pertokoan namun untuk harganya kurang cocok di kantong. Hanya mampir jalan-jalan saja. Haha.. Pas di sini Magnum lagi ada event, jadi lumayanlah dikasih Magnum gratis di sepanjang trotoar.

Day 6

Incheon Airport: Incheon (AREX)

Jalan dari Pk.06.45 dan setelah melewati antrian panjang, akhirnya Pk.10.00 sudah duduk manis di gate keberangkatan. 안녕

Kebetulan kalau untuk kali ini pengeluarannya banyak pakai uang kas bersama jad tidak bisa dikasih detail seperti watu dulu. Overall tidak boros-boros amat.

 

Sampai jumpa lagi ya, Korea!

Social media only shows the good side of life. You just don’t know the truth behind it. So, don’t be envy with others. Let’s just live our own lifes

Advertisements

Urus Visa Korea via Antavaya


Jika sebelumnya saya mengurus sendiri proses apply Visa Jepang, maka kali ini pengurusan Visa Korea menggunakan jasa Antavaya. Kenapa? Karena untuk pengurusan Visa membutuhkan waktu jadi harus cuti dan memotong jatah cuti kantor, serta sesuai dengan peraturan kantor maka bisa kehilangan cuti selama 2 hari (PP ke Embassy), plus dipotong uang harian, ditambah lagi lokasi Embassy cukup jauh dan memakan waktu serta butuh ongkos juga kan ke sana.

Setelah melalui pertimbangan efektifitas maka dipilihlah pengurusan lewat jasa agent wisata. Dengan harga 610.000 (pengurusan asli 544.000), saya tidak usah cuti, tetap dapat uang harian kerja, tidak perlu buang-buang ongkos dan waktu 🙂

Berikut ini saya lampirkan persyaratan visa dari mereka:
HARGA IDR 610.000
PROSES : 7-8 Hari Kerja (tergantung Kedutaan)

Persyaratan Dokumen:

  1. Passport asli minimal masa berlaku 6 (enam) bulan dihitung dari tanggal tiba di tujuan disertai Passport lama bila ada
  2. Pas Foto warna (4 x 6) 2 lembar yang terbaru berlatar belakang warna putih [kalau dari keterangan formnya 3,5cm x 4,5cm]
  3. Bukti keuangan berupa rekening koran atau print tabungan di bank dan dilegalisir oleh bank (berbentuk seperti rekening koran) , bukan print buku tabungan [Rek.koran saya print sendiri dari Internet Banking karena memang Commonwealth sistemnya bisa print sendiri. Tinggal bawa dan minta legalisir stempel saja ke petugas ybs]
  4. Referensi Bank asli dari bank bersangkutan [Pengurusan ke bank, minta dibuatkan surat referensi untuk keperluan Visa ke Korea Selatan, nanti kita tinggal isi form dan bayar biaya pembuatannya. Kalau di Commonwealth saya biayanya 50.000 + materai 6.000. Untunglah surat bisa langsung jadi hari itu juga. Urus pagi, ambilnya sore.]
  5. Surat Sponsor asli di atas Kop Surat [Surat sponsor itu yang ada format keterangan the expense will be furnished by..]
  6. Surat Keterangan Kerja dengan Kop Surat yang mencantumkan masa kerja, jabatan, alamat dan no telp perusahaan (Bila diperlukan) [sedangkan surat keterangan kerja hanya informasi seperti nama, jabatan, dll]
  7. Dokumen yang berhubungan dengan pekerjaan pemohon seperti Slip Gaji atau ID Card (Bila diminta oleh kedutaan) [saya melampirkan FC ID Card]
  8. Fotocopy S.I.U.P.P untuk pemilik
  9. Fotocopy K.K (Kartu Keluarga) & KTP [Untuk yang masa berlaku E-KTP yang sudah expired tidak perlu khawatir karena dari embassy sudah tahu perihal E-KTP seumur hidup]
  10. Fotocopy Akte Nikah
  11. Fotocopy Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa, serta surat keterangan pelajar
  12. Fotocopy Akte Lahir Anak
  13. Fotocopy Surat Ganti Nama (Jika ada)
  14. Fotocopy SPT (PPH 21) [belum punya SPT, maka harus bikin surat keterangan bermaterai bahwa tidak memiliki SPT. Atau solusi lainnya adalah dengan menggunakan SPT anggota keluarga sebagai sponsor, otomatis point nomor.5 nanti disponsori oleh anggota keluarga ybs ini dan menyertakan FC bukti keuangan ybs juga]
  15. Menginformasikan telp Rumah, Kantor dan HP
  16. Bagi yang bepergian sendiri harus ada surat ijin dari orang tua atau istri yang bepergian sendiri harus ada surat ijin dari suami
  17. Print Out Tiket
  18. Bookingan Hotel
  19. Copy semua paspor yang ada stamp dan visa

Memang cukup banyak yang harus disiapkan. Pelan-pelan saja sambil dicicil, sambil disusun rapi berdasarkan urutan. Jadi nggak bingung. Untuk formnya bisa disendiri lumayan banyak karena harus mengisi 5 lembar. Bandingkan dengan form dulu di tahun 2014 yang lebih simple. Intip detail seputar visa Korea.

Sedikit tips pengisian form:

  1. Personal Details: Jika tidak punya surname strip saja. Hari gini nggak punya surname, beginilah diriku..
  2. National Identity Number : nomor KTP.
  3. Bagian dua tidak diisi.
  4. Di passport information karena pasporku biasa, aku mah bukan siapa-siapa atuh.. berarti regular, selebihnya isi sesuai dengan detail yang ada di paspor.
  5. Di bagian Contact, Marital Status, Education, Employment sepertinya sudah jelas semua.
  6. Nah sponsor di sini diisi jika memang kamu diundang dan disponsorin biayanya oleh si invitor dari Korea.
  7. Details of Visit sudah jelas ya. Bolak-balik paspor nih dan cari negara-negara mana saja yang sudah kamu kunjungi selama 5 tahun terakhir.
  8. Funding details anggap saja sehari bisa menghabiskan standard 100USD dan cantumkan juga siapa yang bayarin expenses, contohnya myself, father,daughter, sister, anyone lah.. Type of support waktu itu kita isinya “financially” sih, aku sempat isi juga “accomodation and any other expenses during the vacation.” Kayaknya nggak gitu krusial juga.

Semua di print dalam A4 tanpa perlu dipotong-potong kecil (untuk form ada keterangan agar menggunakan kertas A4 80 gram).

Apply 3 Maret 2017 dan karena dokumen semua sudah diurutkan dengan rapi, jadi tidak ada yang kurang. Tanda terima pun dibuat. Setelah jadi, akan dihubungi oleh Antavaya. Namun 10 hari kemudian dihubungi dan ditanyakan perihal SPT Natalia. Karena dari kantor belum ikut SPT (baru rencana saja), saya memang tidak mencantumkan bukti di nomor 14. Namun, saya memang mengaku biaya akan ditanggung kakak saya dan SPT kakak dan rekeningnya sudah lengkap. Jadi dari Antavaya sepertinya membuatkan surat keterangan tidak punya SPT dan diurus kembali ke embassy. Menjelang akhir Bulan Maret, pas di tanggal 31 Maret barulah kami ke Antavaya dan syukurlah semua visa sudah keluar. Walaupun memakan waktu lama ya jadinya dari 3 Maret ke 31 Maret. Makanya bagi yang mau urus-urus mending dari jauh-jauh hari seperti saya, biar nggak deg-degan mepet. Kalau visa sudah beres, jadi sudah bisa urus ini itu persiapan lainnya.

 

Jalan-Jalan Sehari ke Bogor


Hello again, Bogor! Beberapa tahun yang lalu pernah singgah di Bogor naik kereta api tut tut tut.. Nah kali ini perjalanan dengan mobil. Tujuan pertama adalah ke Kebun Raya Bogor. Caranya: Tol Jagorawi > Tol Jagorawi > Simpang Susun Taman Mini > Tol Jagorawi > Exit Bogor. Dari sana sudah tidak jauh lagi untuk menuju Kebun Raya Bogor.

Yang aku suka dari Kebun Raya Bogor adalah hijaunya itu lho. Sungguh menyejukkan mata.

20170218_102405.jpg

Dari Kebun Raya Bogor, singgah ke Lemongrass untuk makan siang. Tempat ini cukup populer dari beberapa waktu belakangan ini. Tempatnya sih mudah dijangkau dan berada di pinggir jalan. Impresinya? Hmm.. Tempatnya tidak seluas yang aku pikirkan. Tapi lumayanlah. Menunya juga tidak terlalu banyak tapi lumayanlah buat mengisi perut.

20170218_110357.jpg

Beli oleh-oleh ke Sangkuriang yang banyak pilihan kue dari bahan talas. Browniesnya favoritku!

Selanjutnya ke Taman Wisata Alam Gunung Pancar. Sudah lama mau ke sini melihat pepohonan pinusnya. Untuk tolnya pilih yang Sentul Selatan. Patokannya adalah sebelum Jungle Land ada belokan seperti gang / jalan sempit, masuk ke sana ketemu sate kiloan pertigaan artinya sudah dekat. Tinggal ke kanan dan tibaaa..

20170218_143322.jpg

Trip to Hong Kong, Macau, Shenzhen


Memulai perjalanan dari CGK-KUL-HKG pada tanggal 30 April 2016.

Baru saja menginjakkan kaki di Soekarno Hatta, cukup shock mendengar kabar bahwa flight kami dari CGK-KUL ternyata dicancel flightnya dikarenakan ada beberapa pesawat yang mengalami masalah dan tidak bisa terbang dari Kuala Lumpur. Menunggu 30 menit, untunglah kami bisa mendapatkan seat di flight lain yang sudah akan segera terbang. Dengan terburu-buru, kami menuju gate ruang tunggu dan syukurlah bisa tetap terbang malam itu juga. Mengingat para penumpang yang direct flight ke KL semua sudah diinapkan ke hotel dan pindah ke flight besok pagi. Hanya penumpang fly thru yang didahulukan terbang malam ini juga.

flightdetails.JPG

Sesampainya di KLIA2 sudah tengah malam. Ikuti arah ke International Transfer. Karena sudah dapat boarding pass dari Jakarta, jadi tinggal menunggu jam boarding dan menunggu info gate seperti yang tertera di layar informasi departure.

Tanpa berbekal uang ringgit, kami ngamper di bangku-bangku foodcourt. Di sana, saat hari sudah larut, beberapa orang tampak tidur di bangku-bangku itu. Siapkan jaket, jeans panjang, dan kaos kaki jika Anda tidak mau kedinginan.

Setelah melewati beberapa jam tidur seadanya (dan tidak bisa nyenyak), pagi akhirnya tiba. Beres-beres, cuci muka, dan gosok gigi dulu. oh ya, bagi yang mau mandi bisa turun ke lantai departure. Tepat di belakang lift, ada toilet yang memiliki kucuran shower. Nah di dekat daerah sini juga merupakan spot orang tidur juga. Kalau di sini lebih redup dan sunyi.

Singkat cerita, sesampainya di HKIA, hal pertama yang dilakukan adalah membeli Octopus Card di loket Airport Express Information dan Simcard di 1010. Lokasinya berdekatan, yakni setelah Anda keluar imigrasi. Harga simcardnya cukup mahal hiks.. Karena cuma ada yang paket 5GB untuk seminggu.

Day 1:
Ngong Ping, Ladies Market

Dari Airport, naik bus A21. Ikuti saja petunjuk exit airport menuju tempat pemberhentian bus. Lihat petunjuk arah “BUS”. Pembayaran dengan Octopus Card 33 HKD. Turun di halte Argyle Center. Untuk selengkapnya bisa lihat jalur PPnya di sini.

Kami menginap di A-Inn Hostel (lokasi di Mongkok) MTR Mong Kok Exit D2. Patokannya, saat exit D2, lurus ke arah Seven Eleven, tepat sebelum Sevel, ada belokan ke kiri. Langsung belok ke situ dan akan terlihat bangunan Sincere House. Naik ke lt.14 untuk check in.

Setelah mengisi perut, kami menuju ke Ngong Ping. Perjalanan ke sana menggunakan MTR. Cara naik MTR sama seperti kendaraan subway/train/kereta/MRT/TransJakarta atau apapun sebutannya di negara lain.

Contoh: Dari MTR Mong Kok mau ke Tung Chung >> Naik arah Tsuen Wan (Merah) lalu interchange di Lai King pindah ke jalur Orange arah Tung Chung.

mtr_routemap_510

Dari MTR Tung Chung Exit B, Anda akan melihat Citygate Outlets dari kejauhan. Ikuti petunjuk naik Cable Car, naiklah eskalator mengikuti antrian dan beli tiket cable car (ada pilihan standard cabin dan crystal cabin). Kami memilih yang standard saja dan pulang dengan bus no.23. Pembayaran juga dengan saldo Octopus Card. Harganya 27 HKD. Jauh lebih murah jika dibandingkan tiket Cable Car yang mencapai 130 HKD. Tapi pengalaman naik cable car cukup seru karena cukup jauh, tinggi, dan berkabut.

np
Ladies Market MTR Mong Kok Exit E2, sepanjang jalan sudah dipenuhi dengan berbagai barang yang dijual. Penuh dengan hiruk pikuk lautan manusia dan riuh rendah suara loudspeaker sepanjang jalan. Carilah barang yang murah. Kemarin saya beli flashdisk harganya 100 HKD = 10 pcs. Kaos oleh-oleh 100 HKD = 5 pcs.

Pengeluaran :

  1. Simcard 218 HKD
  2. Octopus 150 HKD
  3. Makan siang 25 HKD
  4. Minum 8 HKD
  5. Ngong Ping Cable Car 130 HKD
  6. Isi ulang Octopus 100 HKD >> dipakai untuk MTR, Bus A21, Bus no.23,
  7. Belanja di Ladies Market flashdisk, kaos, makanan, dll 320 HKD
  8. Makan malam Sevel 60 HKD
  9. Tiket dan Penginapan (Paketan Airasia Go) 3.750.000 IDR – Bagasi 180.000 IDR @ 10 kg – Meal 40.000 IDR
  • Sub total 1.011 HKD & 3.970.000 IDR

Day 2:
Times Square, Via Tokyo, The Peak, Symphony of Light

Hari ke-2 masih menjadi hari libur nasional di HK. Rencananya hari ini bermain di daerah Hong Kong island saja.  MTR Causeway Bay Exit A ada Times Square, mall besar ini memiliki brand-brand terkenal. Di Exit F1 ada Via Tokyo yang menyajikan dessert berbahan utama green tea yang menjadi andalannya.

The Peak. Turun di MTR Stasiun Central, exit J2 naik keluar belok kanan ke Chater Garden. Cari penyeberangan jalan menuju ke Queen’s Road Central, Garden Road, dan sambil menyusuri jalan kita akan melihat Bank of China & Citibank Plaza di sebelah kiri. Di sebelah kanan seberang Citibank juga terdapat St. John Cathedral, dan terdapat banyak petunjuk jalan, tinggal kita mencari arah ke Peak Tram. Di ujung jalan Garden Road, terdapat petunjuk jalan besar ke Peak Tram, tinggal menyeberangi jalan dan kita akan sampai di ticket office untuk Peak Tram ke The Peak. Sayangnya saat ke sana sedang ada perbaikan tram. Jadi semua penumpang dialihkan menggunakan bus ke sana. Antrian cukup ramai tapi karena bus Hong Kong cukup besar jadi bisa memuat banyak orang sekaligus. Harganya sekitar 9.8 HKD sekali jalan. Jadi sekitar 20 HKD PP.

thepeak

Sesampainya di The Peak, kondisi cukup berkabut tebal dan sempat disertai hujan gerimis. Setelah berkeliling, akhirnya makan siang jam 16.00 dan kembali ke daerah Tsim Sha Tsui Promenade. Menuju MTR East Tsim Sha Tsui Station, Exit J. Jalan ikuti petunjuk ke arah Tsim Sha Tsui Promenade. Patokannya lihat ada jembatan. Cukup kecewa ternyata saat ke sana, tidak ada pertunjukkan laser spektakuler seperti harapan. Hanya ada beberapa menit kedipan laser singkat mengudara ke langit. Entah apakah biasanya memang seperti ini juga? Perjalanan hari ini cukup melelahkan setelah menempuh > 20.000 langkah kaki. Saatnya istirahat!

kaki.jpg

Pengeluaran :

  1. Sarapan di Causeway Bay Area 29 HKD
  2. Via Tokyo 25 HKD
  3. Beli Kacang 12 HKD
  4. Makan Siang di The Peak 63 HKD
  5. Makan malam roti 21 HKD
  6. Isi ulang Octopus 100 HKD >> Dipakai untuk MTR, Bus PP The Peak
  7. dll 20 HKD
  • Sub total 270 HKD

Day 3:
Windows of the World, Splendid China, Dong Men Market (Shenzhen)

Perjalanan menuju Shenzhen dilakukan dengan menyeberang dari MTR Lo Wu. Ikuti petunjuk sampai Luo Hu (Shenzhen). Mengurus imigrasi terlebih dahulu ya. Dengan VOA seharga 169 Yuan/RMB, di lantai 2, kita bisa menyeberang ke Shenzhen. Isi formulir yang tersedia di lantai 2. Masuk ruang tunggu dan ambil karcis waiting list seperti di bank, tunggu nomor kita muncul dan berjalanlah ke loket pertama untuk menyerahkan form dan paspor. Setelah selesai, ke loket pembayaran di sebelahnya untuk memberikan uang yuan/RMB. Duduk sebentar dan tunggu loket terakhir (loket pengambilan visa + paspor) menunjukkan nomor kita. Taddaaa.. visa pun tertempel di dalam paspor kita. Tinggal turun lagi ke bawah dan menuju imigrasi, isi form lagi untuk menyeberang ke daratan China.

Di Shenzhen, transportasi menggunakan Metro. Caranya, lihat peta dan beli token transportasi warna hijau untuk sekali jalan. Pilih Bahasa Inggris, lalu pilih stasiun tujuan Anda, masukkan uang yang diminta (Anda akan memerlukan uang pecahan kecil, bisa ditukar di loket dengan petugas, atau pecahin uang di vending machine minuman). Dan sebuah token hijau pun keluar dari mesin pembelian. Tinggal berjalan dan antri menuju kereta tujuan.

shenzhen-metro

Tujuan pertama adalah ke Window of the World Metro stasiun Window of World exit I/J (世界之窗站 Shìjièzhīchuāng Zhàn). Tiket masuk 160 Yuan. Berisi miniatur dunia. Tempatnya sangat luas dan perlu waktu berjam-jam di sini. Siangnya sangat terik, eh menjelang sore mulai mendung. Karena sudah kesorean, dan cuaca hujan, kami tidak jadi masuk ke Splendid China & China Folk Culture Village.

Selesai mengisi perut, langsung menuju Dongmen Market stasiun Lao Jie 老街站, dan keluar melalui Exit A. Sepanjang kompleks dan jalanan dipenuhi pedagang dengan berbagai barang-barang fashion seperti baju, celana, sepatu, aksesoris, dll. Wah, bagi pecinta belanja memang wajib mampir ke sini! Ibaratnya Platinum Bangkok, ada banyak pilihan barang dengan harga lebih terjangkau dibanding di Hong Kong. Setelah di hari pertama sibuk mikirin oleh-oleh snack, akhirnya di sini bisa belanja buat diri sendiri 😀 Oh ya, orang di sini rata-rata nggak bisa Bahasa Inggris. Sesuai dugaan, jadi ngomongnya sedikit-sedikit lah. Xiao de. Zhe ge. Yi ge. Discount please. Hehe.. Pas pilih menu dengan huruf Mandarin juga, kami mengandalkan google translate apps. Tinggal foto dan scan tulisan.

Hari semakin malam dan hujan tetap mengguyur. Kami kembali ke Metro Luo Hu untuk menyeberang kembali ke Hongkong. Sampai di MTR Lo Wu, cari makanan ringan dan kembali ke hostel.

Pengeluaran :

  1. Sarapan McD 28 HKD
  2. Makan malam 30 HKD
  3. Visa 169 Yuan
  4. Makan Siang Kung Pao Chicken 25 Yuan
  5. Transportasi Metro 14 Yuan
  6. Belanja, tiket masuk WOTW, dll 562 Yuan
  • Sub total 58 HKD & 770 Yuan

Day 4:
Venetian, Senado Square, Ruins of St.Paul (Macau)

Sedikit info yang saya peroleh dari googling, di Hong Kong ada 2 Ferry Terminal yang melayani perjalanan laut menuju Macau yaitu dari mainland (Kowloon) dan dari Sheung Wan. Begitupula di Macau, ada Taipa Terminal dan Macau Maritime Terminal. Kami memilih berangkat dari Sheung Wan saja karena lebih mudah. Cukup ke Shun Tak Centre dengan MTR Sheung Wan  Exit D 3 bisa langsung tembus ke mall Shun Tak Centre. (Kalau yang di Kowloon, sekilas lihat petanya, masih harus jalan kaki lumayan dari MTRnya). Kami naik turbojet dari Sheung Wan (Suntak Centre lt.3) dan turun di Macau Maritime Terminal, Macau. Ke money changer dulu untuk menukarkan HKD dengan MOP.

macauticket.jpg

Jika Anda membeli tiket ferry, pertimbangkanlah waktu keberangkatan dengan waktu yang dibutuhkan untuk melewati antrian imigrasi, plus jalan kaki ke gate ruan tunggu. Jangan terlalu mepet jika tidak mau lari-larian. Anggap saja antrian imigrasi dan proses jalan kaki sampai ke gate membutuhkan 10-15 menit.

Dari ferry terminal, cukup mencari petunjuk shuttle bus. Enaknya, transportasi di Macau seharian ini hanya menggunakan shuttle bus gratisan saja. Ada sederet shuttle bus yang siap menanti Anda di parkiran. menuju shuttle Venetian di paling ujung dan tinggal duduk manis selama sekitar < 30 menit, kita akan tiba di depan Venetian. Keliling dan berfoto-foto (atau mau main judi ya silakan).

ven

Nah, selanjutnya untuk ke Senado Square harus naik shuttle bus berbeda. Tidak bisa dari Venetian. Aak tricky di sini karena kami tidak tahu di mana itu City of Dreams (tempat yang memiliki shuttle bus yang akan kami naiki). Setelah bertanya-tanya ternyata City of Dreams ada di seberang Venetian (Main Lobby). Setelah di main lobby, coba tanya petugas Venetian dulu, exitnya lewat mana kalau mau ke City of Dreams. Jangan sampai salah keluar. Jika exitnya benar, Anda tinggal menyeberang zebra cross saja. City of Dreams sudah terpampang di depan mata. Tinggal masuk dan tanya lagi ke petugasnya cara menuju shuttle bus ke Sintra Hotel. (Ya, benar. Untuk ke Senado Square, pilih shuttle Sintra dan tinggal jalan kaki dari Sintra Hotel ke Senado Square).

Di kanan ada Lisboa, dkk. Jalan ke kiri jika mau ke Senado Square, sampai di seberang kelihatan kantor pos, dan keramaian turis, tinggal mengikuti jalan saja sampai akhirnya tiba di Ruins of St. Paul.

ruin

Di depan sini ada banyak yang jualan cemilan terutama eggtartnya Koi Kei yang terkenal dengan harga 9 MOP/pcs.

egg

Kembali ke Sintra Hostel lagi dengan berjalan kaki (sempat nyasar karena salah belokan hehe). Lalu dari Sintra Hostel kembali dengan shuttle bus ke City of Dreams. Dari City of Dreams ada shuttle langsung ke Macau Terminal maupun Taipa Terminal. Jadi bisa langsung kembali ke ferry terminal dari City of Dreams.

Pengeluaran :

  1. Sarapan macaroni soup, egg, bread set 25 HKD
  2. Ferry 164 HKD
  3. Makan siang di Venetian Foodcourt 78 MOP
  4. Eggtart 27 MOP
  5. Minum 7 MOP
  6. Oleh-oleh kuteks 10 MOP
  7. Oleh-oleh Daiso 15 MOP
  8. Ferry 169 MOP
  9. Makan malam Cakwe 11 HKD
  • Sub total 200 HKD & 306 MOP

Day 5:
Hong Kong Disneyland

Hong Kong Disneyland terletak di Lantau. Posisinya ke arah MTR Sunny Bay lalu lanjut train Disneyland. Jika ada promo lumayan tuh, bisa coba cari di agen wisata, deal online, Klook, dll. Jika patokan dari webnya, dengan harga resmi 539 HKD, Anda sudah bisa mendapatkan tiket masuk adult (one day pass) dan combo meal (makanan dan minuman) >> Promo nih.

Dari jam 10 kurang, kami sudah tiba di sini agar bisa masuk saat gate dibuka. Kebetulan sudah beli tiket dari Indonesia dan sudah ada print out e-ticket. Tinggal antri sebentar dan scan di mesin self service. Keluarlah tiket masuk dan tiket makan untuk 1 hari. Mengapa mending beli paket tiket & meal? Karena dihitung-hitung lebih murah. Kalau beli meal terpisah, rata-rata main course harganya > 100 HKD. Sedangkan waktu itu pas beli di Tokopedia, harga entrance ticket only tidak beda jauh dengan harga plus meal.

Di sini ada beberapa pembagian wilayah: Main Street, U.S.A., Fantasy Land, Mystic Point, Tomorrowland, Toy Story Land, Grizzly Gulch, dan Adventure Land. Saat baru buka, wahana pertama yang kami temui adalah Cinderella Carousel. Karena belum ada antrian, jadi bisa langsung naik. Selanjutnya adalah The Many Adventures of Winnie the Pooh di mana kita diajak berkeliling dengan kereta melihat dan mendengar cerita Pooh, berputar bersama Mad Hatter Tea Cup, istana boneka cantik di It’s a Small World, Mickey’s Philhar Magic 3D, Fantasy Gardens, Railroad, berkeliling kereta di Mystic’s Manor, naik turun UFO di Orbitron, naik mobil-mobilan di Autopia, gila-gilaan teriak di RC Racer yang paling terrifying, Slinky Dog Spin yang menyenangkan, Toy Soldier Parachute Drop punya single rider, Big Grizzly Mountain Runaway Mine Cars, yakni roller coaster seru, punya single rider (sampai-sampai kami naik 3x), dan Closing Parade di malam hari. Sayangnya, beberapa wahana sedang under construction. Oh ya, ada juga wahana baru berbau Stark/Iron Man yang sedang dibangun.

Pengeluaran :

  1. SarapanMcD 28 HKD
  2. Air minum di Disneyland 28 HKD
  3. Isi Octopus 50 HKD >> Dipakai untuk MTR, Bus A21 besok, dan sisa beli camilan
  4. Tiket Disneyland 950.000 IDR
  5. Sevel Black Kimbab 20 HKD
  • Sub total 126 HKD & 950.000 IDR

Day 6:
Grand Plaza, Langham Place, Dimdimsum

Hari terakhir liburan di Hong Kong, kami ke Grand Plaza (MTR Mong Kok Exit E1). Sekalian bisa ke Langham Place juga di sini. Masuk dan jalan-jalan. Masih sempat beli kuteks oleh-oleh di Sasa (tempat jualan kosmetik di HK). Dannn.. di Langham Place sempat melihat standing banner Ikon yang bakal konser pas weekend. Lagu-lagu di mall ini juga Korea semua haha.. Setelah kemarin melihat poster-posteran Yoo Si Jin, baju Yoo Si Jin, ada juga Moon Shot Sandara, bus dengan foto Park Bo Gum. (*abaikan).

Wisata kuliner terakhir di Dimdimsum. Lokasinya dekat dengan A-Inn Hostel dan saking ngehitsnya, sudah ada waiting list padahal restoran baru saja buka. Soal harga, rata-rata 25-30 HKD per porsi. Rasanya biasa saja jadi bingung juga kenapa ngehits banget :p

dds.jpg

Saatnya pulang! Kembali ke hostel untuk mengambil barang titipan. Dengan susah payah memikul dan mengangkat bawaan yang sudah beranak pinak haha.. Kami menuju Exit E1 pas di depan Grand Plaza, ada halte bus A21 ke arah Airport. Ya, dengan kecanggihan website jalur bus, dipadukan dengan google maps, dan google street view, saya berhasil mendapatkan info ini dari internet. Padahal tadinya kalau nggak ketemu, saya sudah siap-siap mau tanya ke petugas hostel, darimana harus naik bus.

Pengeluaran :

  1. Sarapan di Langham Place 81 Ban Japanese Deli 28 HKD
  2. Dimdimsum 60 HKD
  3. Beli cemilan 30 HKD
  4. Kuteks 20 HKD
  • Sub total 138 HKD

TOTAL 4.920.000 IDR + 1.861 HKD (kurs x 1.715 IDR) + 770 Yuan (kurs x 2.045 IDR) + 306 MOP (kurleb 300 HKD) Kurs beli MOP dengan HKD 1,029

Banyak mata uang jadi bingung sendiri hitung menghitung, tukar menukar duitnya. Kurang lebih habis sekitar 4.920.000 + 3.191.615 + 1.574.650 + 514.500 = 10.200.765 IDR. Wah ternyata lumayan besar pengeluaran untuk menjelajah HK, SZ, dan Macau.

Malang-Batu-Bromo-Surabaya


Menjelang akhir tahun 2015, syukurlah bertambah lagi satu perjalanan yang saya tempuh. Kali ini outing bersama dengan teman-teman dari kantor Bisnis 2030, CPSSSoft, dan juga ABC. Perjalanan berlangsung dari 30 September – 3 Oktober 2015. Tempat destinasi outing yang dituju tak terlalu jauh dari ibukota Jakarta. Bertemakan Jawa Timur Fantasy Tour, kami diajak untuk berkeliling area Jawa Timur, antara lain Malang, Bromo, dan Surabaya. Tempat-tempat wisata yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini, saya bold untuk supaya tampak lebih menonjol.

Dari pagi-pagi sekali, saya sudah terbangun dan siap-siap berangkat dengan Sriwijaya Air dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Abdul Rachman Saleh di Malang. Satu jam perjalanan terasa cukup singkat.


Day 1:
Hari pertama menginjakkan kaki di Malang, kami sudah dijemput tour leader, Mas Ade bersama dengan Mas Dion. Tanpa membuang-buang waktu, bis langsung meluncur ke pusat kota. Rencana di hari pertama, kami akan mengunjungi Bakso Bakar Pak Man, Pantai Bale Kambang, Warung Wareg, Batu Night Spectacular, dan Alun-Alun. Terdengar sangat banyak, bukan? Ya, lumayan!

Setelah mencicipi bakso bakar yang rasanya kurang cocok di lidah, kami menempuh perjalanan cukup panjang ke Pantai Bale Kambang. Oh ya, rasa bakso bakarnya memang kurang cocok di lidah, tapi kuahnya gurih dan di sana bihunnya khas berwarna biru! Sungguh sangat khas!

Setelah berguncang-guncang di dalam bis selama 3 jam melewati jalan sempit nan curam, akhirnya kami bisa menghirup udara segar. Walaupun matahari bersinar terang, tapi angin di sana sepoi-sepoi. Menurut Mas Ade sebagai tour leader kami, Pantai Bale Kambang ini dikenal dengan istilah “Tanah Lot ala Jawa Timur”. Hal ini dikarenakan keberadaan pura di bagian ujung pantai.

Hal pertama yang kami lakukan adalah makan siang di rumah makan pinggir pantai. Menunya utamanya ikan bakar. Sebenarnya ikan bakar tersebut menggugah selera, hanya saja ada lalat-lalat yang berterbangan menghiasi meja makan. Tapi yang namanya sudah lapar, yang penting perut terisi. 🙂 Setelah mengisi perut, kami langsung menuju pantai untuk berfoto-foto selama beberapa jam.

Kegiatan sore dan malam hari diisi dengan makan di Warung Wareg, mengunjungi Batu Night Spectacular, dan Alun-Alun. Entah karena pengaruh banyak makan atau masuk angin, rasanya perut saya di malam itu kurang nyaman. Untungnya setelah dari Warung Wareg, perut saya kembali nyaman. Perjalanan berikutnya ke Batu Night Spectacular dan Alun-Alun bisa berjalan lancar. Di Batu Night Spectacular (BNS) ternyata cukup menarik. Mengingatkan saya pada pasar malam di masa kecil. Ada beberapa wahana permainan yang bisa dinaiki dengan membeli tiket, serta ada toko-toko kaos khas untuk oleh-oleh. Sedangkan di Alun-Alun, ada banyak jajanan di pinggir jalan yang bisa dicicipi. Perjalanan di hari pertama akhirnya selesai sekitar Pukul 22.00 dengan check-in di Grand View Pujon, Malang.

Day 2:
Pagi-pagi kami check-out dari Grand View Pujon. Cuaca di pagi hari ternyata cukup dingin. Namun, setelah bergerak banyak, tubuh sudah mulai beradaptasi. 😀

Tujuan pertama yang kami kunjungi adalah Air Terjun Coban Rondo yang punya kisah legenda jandanya. Bahkan menurut mitos, bagi yang sudah punya pasangan kalau pergi ke sini tanpa pasangan Anda harus berhati-hati. Penasaran kisah selengkapnya? Supaya tulisan saya tidak terlalu panjang, Anda bisa mencari kisahnya sendiri lewat internet. Pemandangan di sini sangat indah membuatnya cocok untuk berfoto ria. Di sini juga tersedia warung jagung bakar dan makanan ringan lainnya.

coban

Air terjunnya dingin!

Pemberhentian berikutnya adalah ke kebun apel. Di sini, para pengunjung dapat memetik apel sepuasnya di kebun. Untuk apel yang dipetik dapat dimakan langsung. Sedangkan apel yang dimasukkan ke kantong plastik harus ditimbang dan dibayar terlebih dahulu sebelum dibawa pulang. Harganya hanya Rp20.000,-/kg. Oh ya, kami naik angkot untuk akses dari dan ke kebun apel. Medan yang berpasir akan membuat alas kaki Anda ikut kotor. Beberapa teman-teman bahkan menyempatkan cuci kaki saat berada di restoran berikutnya. Jadi kalau Anda ke sini, barangkali bisa mempersiapkan alas kaki yang tertutup.

Selesai makan siang, perjalanan dilanjutkan dengan naik bis ke Jatim Park 2 dan Secret Zoo yang letaknya dalam satu kompleks. Tak lupa berfoto bersama di sana. Memasuki museum satwa dan kebun binatang yang ternyata cukup luas. Setiap belokan tertera papan petunjuk “rute selanjutnya”. Rasanya, tak henti-hentinya melihat papan demi papan. Entah kapan perjalanan akan usai, sementara waktu semakin berjalan. Menjelang akhir waktu kunjungan, barulah kami mengetahui bahwa di sana juga ada wahana bermain. Berhubung waktu sudah tidak banyak, saya hanya mencoba naik satu wahana yang ternyata cukup seru dan konyol juga. 😀

Menjelang malam, kami sudah berkeliling lagi di Museum Angkut. Di bagian dalamnya terdapat pajangan-pajangan mobil dan kendaraan antik. Menurut saya yang paling keren dari museum angkut adalah dekorasi Movie Star Studio. Jadi saya sarankan Anda mengeksplorasi hingga ke Movie Star Studio. Saya sempat kagum melihat area yang cukup luas dihias bak dekorasi yang berkonsep keliling dunia. Ada tema Batavia, UK, Las Vegas, dan masih banyak lagi. Serasa berada di Universal Studio mini versi non-wahana. Tempat ini sangat cocok untuk berfoto ria. Banyak spot menarik untuk dijepret.

museum angkut

Inilah dekorasi dengan tema United Kingdom

Perjalanan jauh menuju area Bromo pun dimulai. Sampai sana rasanya sudah lelah dan tidak ada nafsu makan lagi saat singgah di Restoran Rawon Nguling yang menyajikan menu utama rawon. Saya hanya ingin mandi dan beristirahat. Maklumlah, saat itu tubuh sudah berkeringat sehabis berlari-larian di Museum Angkut demi mengejar waktu untuk berfoto ria.

Sampai di Suka Pura Permai, udara dinginpun menyapa. Karena sudah menjelang tengah malam dan besok harus bangun pagi-pagi sekali ke Bromo, saya segera mandi dan langsung beristirahat.

Day 3:
Pukul 02.00 pagi, perjalanan menuju Bromo dimulai! Dengan menumpang mobil Jeep yang sudah disiapkan, lima orang peserta plus sopir di setiap Jeep berangkat menuju Bromo dengan kostum siap tempur. Ada yang menggunakan jaket, sweater, topi, masker, sarung tangan, syal, dan perlengkapan penghangat lainnya. Walaupun di sepanjang jalan saya berkali-kali menutup mata, namun guncangan-guncangan tetap saja terasa sangat nyata.

Perut kosong terasa diguncang-guncang di sepanjang perjalanan yang berliku-liku. Untung saja saya bisa bertahan sampai di tempat tujuan. Begitu keluar dari Jeep, kondisi terasa sangat dingin. Entah karena tubuh yang belum beradaptasi di pagi itu ataukah karena suhu yang perlahan naik, ketika sudah tiba di pananjakan menantikan sunrise ternyata tubuh ini sudah tidak terasa kedinginan seperti di awal tadi. Walaupun tetap saja hawa dingin keluar dari mulut ini. Kapan lagi bisa ada hawa dingin yang keluar dari mulut? 😀

Sesampainya di Puncak Pananjakan, sayangnya kami belum beruntung karena kabut menyelimuti langit membuat ratusan atau bahkan ribuan orang yang ke Bromo harus gigit jari. Tidak ada pemandangan sunrise elok layaknya foto-foto di internet atau media sosial. Hanya ada kabut tebal yang menghiasi layar kamera ini. 😦 Oh ya, di sana juga ada banyak ojek yang menawarkan jasanya. Tapi jaraknya tidak terlalu jauh sih, jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki saja.

Tak berlama-lama, kami turun menuju tempat parkir Jeep yang sudah menanti untuk lanjut ke kawah. Jika Anda pernah melihat foto orang-orang naik kuda atau pernah mendengar pengalaman orang naik anak tangga menuju ke kawah, di sinilah tempatnya! Turun dari mobil, sudah ada beberapa bapak-bapak membawa kuda untuk ditawarkan. Harganya Rp.100.000,- pulang pergi. Melihat anak tangga dari kejauhan, terbayanglah betapa jauhnya perjalanan yang akan ditempuh. Ternyata bukan karena faktor jarak, tetapi faktor tanjakan berpasir nan dingin dan berdebulah yang membuas napas saya tersengal-sengal. Saya sendiri memilih tidak naik kuda mengingat saya membawa baju dengan jumlah pas-pasan dan baju ini akan saya pakai sepanjang hari. Jadi saya takut akan kotor jika naik kuda. Saya juga belum pernah naik kuda, jadi agak khawatir mengingat ada tanjakan yang tinggi di depan mata.

Sebelum sempat sampai ke anak tangga ternyata saya sudah lelah. Saya pikir-pikir sebaiknya saya tidak naik ke kawah. Pertimbangan karena saya pikir kondisinya akan sama-sama berkabut. Eh.. Kebetulan bertemu dengan teman-teman Tomang, saya memutuskan duduk bersantai saja sambil berfoto-foto. Sewaktu kami duduk, beberapa kuda terdengar kelelahan saat naik. Napas sang kuda terdengar jelas di telinga kami. Ada juga motor yang bisa menerobos lautan pasir sampai atas. 😮

bromo

Hasil iseng-iseng panorama sewaktu bersantai

Ketika teman-teman Tomang sudah mulai turun dari atas kawah, kami ikut turun juga. Kali ini rute turunnya mengambil rute samping untuk menghindari jalanan kuda yang berdebu. Rute turunnya sangat mudah, 180 derajat dibandingkan dengan rute naik yang melelahkan.

Menuju destinasi berikutnya, ke Bukit Teletubbies dan Pasir Berbisik. Cuaca sudah mulai menghangat. Konon sebelum ada “Teletubbies”, tempat tersebut tidak memiliki nama komersil, hanya disebut bukit biasa saja. Begitupula dengan lokasi Pasir Berbisik. Sebelum ada kisah “Pasir Berbisik” dulunya tempat itu dinamakan “Pasir Bersisik” karena pasirnya berbutir seperti sisik. Makanya kalau Anda mencari informasi tempat ini di media sosial, Anda bisa mencarinya dengan kedua nama terebut, sama saja. Tempat ini cukup indah untuk foto-foto. Seolah foto yang bisa bercerita akan kesunyian. 😀

pasir berbisik

Ceritanya sih ini foto candid di Pasir Berbisik

Perjalanan di Bromo akhirnya selesai juga. Siangnya kami kembali ke penginapan untuk mandi dan check-out. Dari kawasan Bromo, kami beranjak menuju ke Surabaya. Beberapa kali saya tertidur di bis. Tak terasa, sorenya kami sudah tiba di area pelabuhan untuk naik kapal pesiar Artama 3 melewati perairan Suramadu. Angin sepoi-sepoi bertiup di atas kapal. Entah karena ombak yang lumayan besar ataukah kapal yang kecil, saya sempat merasakan sedikit mabuk. Untungnya tidak terlalu parah dan masih bisa menikmati perjalanan sampai selesai.

Matahari telah terbenam dan langit perlahan semakin gelap. Perjalanan hari ini diakhiri dengan istirahat di Hotel Sahid, Surabaya. Saat pertama mendengar nama Sahid, sudah terbayangkan hotel yang mewah dan keren. Namun imajinasi itu agak pupus ketika masuk ruangan. 😀 Kondisinya ternyata sudah terlihat tua. Keran-keran tampak sudah menghitam berkarat, serta tampak kotoran menghiasi pojok kamar mandi. Untung saja saya sempat membawa serta sandal dari Hotel Grand View sehingga bisa dipakai untuk alas kaki di kamar mandi. Beberapa teman malah sempat bermasalah dengan air kotor dan ruangan yang panas.

Di luar dari masalah kamar mandi, saya bisa tidur dengan nyenyak. Setelah kurang tidur selama di Malang dan Bromo, akhirnya bisa merasakan tidur dengan puas di Surabaya ini. Untuk breakfastnya juga memuaskan. Banyak menu pilihan yang bisa dimakan, mulai dari bubur ayam, roti, kue, sereal, nasi, dan aneka lauk pauk.

Day 4:
Pukul 09.00 kami sudah kembali naik bis untuk mengunjungi pusat kerajinan kulit dan tas Tanggulangin. Tas-tas dan kerajinan kulit lainnya seperti yang sering dijual-jual di Mangga Dua. Saya sendiri tidak ikut belanja kerajinan tersebut. Untuk oleh-oleh, saya sudah belanja makanan ringan dari sejak di Toko Brawijaya pada hari ke-2.

Perjalanan panjang menuju Madura untuk menikmati pemandangan Suramadu serta Bebek Goreng Sinjay yang terkenal. Sepertinya beberapa teman sudah kebelet buang air kecil, sampai-sampai Mas Ade, tour leader kami sempat bercanda bahwa kami ini cocok ikut wisata toilet karena sebentar-sebentar selalu minta ke toilet. Hehe..

Bebek Sinjay ini memang nikmat sekali. Ditambah lagi dengan sambal mangga yang keterlaluan pedasnya serta rasa gurih dan asin bebek membuat saya lupa diri melahap habis santapan yang ada di depan saya. Padahal awalnya sempat ragu apakah saya mampu menghabiskan nasi yang porsinya cukup besar. Tapi karena rasa asin dari bebek goreng membuat saya melahap habis nasi putih hangat di piring saya. Ditambah dengan satu buah kelapa segar nan mengenyangkan. Menurut Mas Ade dan Mas Dion, jika tidak reservasi duluan, sangat sulit mendapatkan tempat di rumah makan ini. Kita harus mengantri cukup lama untuk dapat menikmati kedasyatan si bebek goreng.

bebek goreng

Penampilan biasa saja, rasanya luar biasa!

Kembali melewati Suramadu untuk menuju ke Surabaya. Mas Ade juga sempat menceritakan sejarah Suramadu. Dulunya ada sekitar 20 narapidana Korea yang ditarik untuk jadi buruh dalam pengerjaan jembatan ini dengan iming-iming pengurangan masa tahanan sehingga bisa bebas setelah pengerjaan jembatan. Namun setelah jembatan jadi, mereka lenyap tanpa jejak. Seperti cerita di film-film saja, ya? 😮

Kembali ke Surabaya, kami menuju ke House of Sampoerna. Dari namanya saja, tentu Anda sudah tak asing dengan merk rokok yang satu ini. Mendengar sedikit intro dari petugas museum, saya dan teman-teman melanjutkan foto-foto di dalam museum. Dekorasi dan interior jaman dulu terasa sangat kental di sini.

sampoerna

Sambil jaga warung di House of Sampoerna

Perjalanan kami ditutup dengan mengunjugi Restoran Kepiting Cak Gundul. Diburu waktu, kami makan dengan cepat supaya bisa tiba di Bandara Juanda tepat waktu. Dari Surabaya, kami naik Citilink menuju ke Jakarta. Setelah delay sekitar 1 jam lamanya, pesawat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba menjelang tengah malam. Kami tiba dengan selamat di Jakarta sekitar Pukul 02.00 dan dilanjutkan dengan perjalanan ke rumah masing-masing. Perjalanan selama 4 hari 3 malam ini akhirnya berakhir sudah. Berangkat pagi, pulang pagi! 😀 Saatnya mandi dan beristirahat!

Dari sekian banyak tempat yang dikunjungi, saya paling suka dengan Batu Night Spectacular, Movie Star Studio di Museum Angkut, serta Jatim Park. Sayangnya kami hanya mengunjungi Jatim Park 2 saja. Oh ya, Coban Rondo juga bagus. Tak lupa Pasir Berbisik yang tak kalah keren untuk kegiatan foto-foto. Padahal sebelum berangkat, tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah Bromo. Ternyata setelah sampai sana, banyak tempat baru yang menarik.

Sedangkan untuk penginapannya, saya memilih Grand View Pujon dibandingkan dua penginapan yang lain.

Nah, makanan favorit saya selama di sana jatuh pada Bebek Sinjay. Rasa asin dan gurihnya nikmat di lidah. Selama di sana rata-rata masakan disajikan dengan citarasa Jawa yang manis. Jadi saat bertemu Bebek Sinjay, akhirnya bisa juga makan makanan asin nan pedas.

Perjalanan saya mengunjungi tempat-tempat baru selama outing ini merupakan hal yang menyenangkan. Banyak pengalaman, cerita, foto, dan pengetahuan baru yang saya dapatkan. Hanya saja jadwalnya terkadang terasa cukup padat serta berada di bis dalam waktu cukup lama membuat kondisi tubuh terasa kurang optimal.

Foto-foto lainnya:

CYMERA_20151001_104142

Air Terjun Coban Rondo

disewakan. Selain menanjak dan berpasir, jalanan berdebu dan dingin bikin ngap-ngapan. (Bromo)

CYMERA_20151003_110256

Museum Angkut Batu (Movie Star Studio yang keren interiornya serasa di USS) Hehe..

CYMERA_20151003_110559 CYMERA_20151003_110752

CYMERA_20151003_110652

Ini di Jatim Park 2. Posenya serasa kelelep di aquarium

CYMERA_20151004_115152

House of Sampoerna

CYMERA_20151004_115347 CYMERA_20151004_115436 CYMERA_20151008_194640

mkn

Nah.. Ini Nasi Bebek Sinjay dan Kepiting Cak Gundul

mkn (1)

Trip to Japan


Setelah sebelumnya berbagi pengalaman seputar pembuatan visa Jepang, kali ini cerita singkat selama berada di sana.
Perjalanan ditempuh menggunakan Air Asia yang tiketnya sudah saya beli dari sejak event diskonan Air Asia. Berangkat dari CGK-DMK-NRT. Pulangnya dari KIX-KLIA-CGK.

Sempat ada perubahan transit dari KLIA ke DMK. Untunglah semua sudah beres.

Singkat cerita saja. Perjalanan dimulai dari Soetta hari Sabtu sore (19 September 2015) dan tiba di Narita hari Minggu pagi (20 September 2015).

Sesampainya di Narita dan melewati proses imigrasi, turunlah 1 lantai menuju pengambilan bagasi. Setelah itu melewati bagian bea cukai dan keluar menuju arah train. Ikuti saja petunjuk dan turun ke bawah B1 lalu cari loket train yang tersedia. Ada beberapa pilihan kereta dari Narita ke pusat kota. Mulai dari yang paling mahal tapi praktis dan cepat ala Narita Express. Tapi pilihan kami jatuh pada Keisei yang lebih murah. Bukan hanya murah yang menjadi pertimbangan saya. Kebetulan, kereta ini juga melewati Shinagawa (tempat menginap) tanpa perlu transfer-transfer. Jadi sama-sama mudah.

Oh ya, saya menginap di apartment SY Takanawa yang dipesan lewat Airbnb.com. Mengapa? Karena lebih murah dibandingkan hotel, plus lokasi yang strategis dekat dengan stasiun, plus fasilitas lengkap, ditambah lagi Airbnb memberikan credit senilai Rp.350.000-an lebih yang bisa digunakan untuk potongan diskon saat reservasi ke manapun Anda pergi tanpa embel-embel ribet. Asyik kan!

Dapatkan credit di Airbnb dengan meng-klik link ini dan klik Sign up to claim your credit. Anda langsung akan mendapatkan credit yang langsung bisa digunakan untuk potongan saat melakukan reservasi. Tanpa perlu ribet!

Nah, sesampainya di stasiun Shinagawa, kami agak kagok. Di sana cukup ramai dan kami agak kelimpungan karena petugas yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Ditambah lagi dengan karamaian yang luar biasa dan koper-koper kami yang besar, kami mencoba mencari informasi sana-sini untuk membeli Suica Card (kartu transportasi yang akan dipakai selama kami di sana).

Setelah mencari informasi di loket Information Center, kami berhasil membeli Suica lewat mesin otomatis. Pilih nilai yang tersedia, masukkan uang, dan kartupun siap dipakai. Belinya kartu biasa saja. Oh ya jangan lupa perhitungkan bahwa ada deposit awal senilai 500 Yen ya. Jadi kalau isinya 1.000 Yen, berarti saldo yang bisa dipakai hanya 500 Yen.

Setelah membeli Suica Card, kami menuju ke apartement tempat kami menginap. Untungnya host sudah mempersiapkan petunjuk yang sangat detail mengenai cara untuk menuju apartement. Kami hanya perlu mengambil kunci yang disimpan di tempat rahasia. Kejujuran dan kepercayaan antara kedua belah pihak sangat diperlukan di sini. Oh ya.. Ada lagi plusnya orang sana. Budaya ngantrinya tak perlu diragukan lagi. *thumbsup* Seandainya orang sini juga berbudaya gitu *ngayal*

syt

Nah, setelah menitipkan barang di SY Takanawa (karena belum waktunya check in), perjalanan wisatapun dimulai! Pertama-tama dengan mengisi perut tak jauh dari apartment. Dan ya lagi-lagi pelayannya tidak bisa berbahasa Inggris dan menu semua dalam kanji. Jadi ya tunjuk menunjuk pakai bahasa isyarat deh. Harga makanan rata-rata sekitar 400 Yen – 1.000 Yen.

food (1)

Hari ke-1. Hari pertama ini yang mainstream saja.. Kami mengunjungi Shinjuku (Stasiun Shinjuku), Asakusa (Stasiun Asakusa), dan Shibuya (Stasiun Shibuya). Makanan pertama yang dimakan adalah kari di restorant dekat apartment. Walaupun dengan menu kanji, tidak ada masalah saat pemesanan. Rasa daging sapi yang saya makan juga nikmat dan tidak ada alot sama sekali. Padahal bukan penggemar daging sapi.

asakusashinj

Oh ya, soal transportasi Hyperdia andalannya. Cari rutenya di sana biar gampang. Soalnya transportasi di Jepang bagi newbie seperti saya sih cukup rumit. Soalnya bukan cuma menggunakan JR, atau Tokyo Metro/TOEI, tapi juga sederet private railways lainnya. Dan masing-masing dengan jalur berbeda, peta berbeda, dll. Belum lagi kondisi yang ramai di stasiun-stasiun yang menyulitkan kita mencari platform yang tepat. Belum lagi, saya nggak bisa baca kanji-kanji yang menghiasi stasiun.

Tipsnya di keramaian stasiun, jangan berjalan lambat atau berhenti di tengah jalan kalau tidak mau ditabrak orang dari belakang karena orang-orang di sana jalannya serba cekatan. Menyingkirlah di dinding atau nemplok ke tembok untuk menghindari ‘serbuan’ lautan manusia. Haha.. Lama-lama Anda akan terbiasa dengan pace di stasiun-stasiun besar tersebut dan sudah terbiasa mencari platform dari kejauhan sambil berjalan.

Eh.. Ternyata kebetulan di Jepang sedang tanggalan merah. Jadi di Jepang juga ada semacam libur Chuseoknya Korea pas minggu ketiga September. Ternyata pas liburan, tempat-tempat wisata super crowded. Berjalan di Asakusa saja padat merayap. Kami tidak dapat berbelanja dengan nyaman. *Oh ya ternyata memang harga barang di sana mahal ya. Gantungan kunci yang biasa dijadikan oleh-oleh standard murah di negara lain, di Jepang 1 gantungan kunci saja harganya bisa Rp.50.000.

Hari ke-2 mengunjungi tempat incaran saya, Yomiuriland untuk bungee jumping. Cara yang paling mudah lewat stasiun Keio-YOMIURI-LAND dan melanjutkan langsung via gondola. (Tiket entrance only = 1.000 Yen ditambah Bungee 9.00 Yen). Lagi-lagi petugasnya tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Saya beberapa kali bertanya di mana pembelian tiket bungee jumping sampai akhirnya mendapat jawaban yang diinginkan. Cara nanyanya simple-simple aja. Jangan kepanjangan. Nggak perlu grammar yang benar. Yang penting mudah dimengerti. “Bungee Jumping ticket. Where? Buy ticket? Bungee Jumping” Gitu aja lebih mudah dimengerti sama mereka..

yomi (1)

yomi

Sempat antri cukup lama menunggu giliran saya meloncat. Wah.. Pas sampai atas baru berasa tingginya. (Padahal bungee jumping di sini hanya selevel amusement park lho, bukan yang benar-benar tinggi banget). Pas loncat, pikiran sudah blank. Ngerinya baru berasa setelah satu loncatan dan mental ke atas. Tapi seru sih setelah itu sudah ketawa-tawa lagi.

Melanjutkan perjalanan menuju pertokoan baju di Shimokitazawa (Stasiun Shimo-kitazawa) sampai malam. Lalu mampir ke Shibuya lagi pas pulangnya karena satu jalur.

shimok

Hari ke-3
Saya sebenarnya sudah berencana ke Disney Sea karena satu-satunya di dunia. Tapi mengingat kondisi tempat-tempat wisata yang sangat ramai, bisa-bisa ngantrinya saja bisa berjam-jam, kan sayang udah mahal-mahal, buang-buang waktu seharian hanya untuk 1 wahana. Apalagi ini para membernya nggak ada yang penggila amusement park. Jadi nggak ngebet-ngebet banget. Daripada tepar, saya memutuskan hanya datang berfoto-foto saja. Untung banget lho nggak beli tiketnya online karena pas Hari-H ternyata di sana super ramai sampai-sampai baru jam 10.00 saja, Disney sudah ditutup utnuk umum karena jumlah visitor yang sudah over-crowded, wekkss.. Jadi dari stasiun Maihama, kami berkeliling dengan kereta Disney Resort dan foto-foto saja.

disney (3) disney disney (1)

Dari Disney Resort melanjutkan ke Harajuku (Stasiun Harajuku) yang mana Takeshita-Dorinya sangat amat ramai juga. Waaahh bergerak saja sudah susah. Mana ada nafsu untuk belanja lagi saking ramainya. Berhasil keluar dari keramaian Takeshita-Dori, segera menuju Line Friends Store dan Oriental Bazaar.

line

Setelah memasuki Oriental Bazaar, hasilnya kami membeli beberapa suvenir untuk oleh-oleh. Kami masih ada waktu untuk ke Yoyogi Park untuk beristirahat sejenak (Stasiun Yoyogi-Koen). Mampir sebentar ke toko serba 100 Yen. Cocok lah untuk mencari oleh-oleh dengan harga bersahabat. Oh ya.. Thanks to the host’s pocket wifi, we can find the park easily. Soalnya dari stasiun masih jalan kaki lagi sekitar 15 menitan. Menanjak pula rutenya. Ditambah lagi malam itu cuaca berangin sepanjang jalan sampai ke stasiunnya. Keberadaan pocket wifi sangat membantu menemukan rute di maps. Selama perjalanan di sana, kami tidak perlu bertanya pada pedestrian yang lewat. Cukup mengandalkan maps saja. Mengingat sulit berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, memang maps bisa jadi andalan!

Hari ke-4 berikutnya ke stasiun Hon-Kawagoe untuk mengunjungi Kawagoe area dengan gaya kota tuanya. Tidak terlalu wow sih menurut saya. Tapi lumayan lah jika memang punya waktu luang lebih.

kawagoe (1)

Kembali dari Kawagoe, mengunjungi stasiun Shin-Okubo alias Korean town. Hehe.. Begitu melihat hangul-hangul di menu makanan Korea rasanya sungguh menyenangkan. Ada yang bisa saya baca juga akhirnya, setelah berhari-hari nggak ngerti satupun kanji yang ada di buku menu. Pulang dari Shinokubo, saya mencari-cari cara memesan tiket Shinkansen untuk ke Shin-Osaka.

Hari ke-5 (24 September 2015) Kami harus menuju Osaka. Nah, saya sempat stress berat gara-gara salah arah naik kereta gara-gara bingung tuh kereta ternyata ke arah Osaka instead of JR-Namba tujuan saya. Buru-buru karena sudah telat janjian dengan staff host di OCAT / JR-Namba, saya berkali-kali sms sampai akhirnya untung saja dia masih menunggu di OCAT. Sempat pakai acara lari-larian pula *Kayak The Amazing Race sajaaa* Hampir saja dia pergi meninggalkan kami hiks.. Saya dibuat stress.. Benar-benar puncak kesulitan saya rasakan di hari itu deh. Semua tanggung jawab sayaaaa.. mulai dari itinerary, rute, kereta, airbnb, dll. Di saat orang lain sudah tidur, saya masih berkutat dengan Hyperdia. Mau beristirahat tiduran di kereta? Ga bisa, saya berkutat dengan patokan peta stasiun gara-gara takut kelewatan. (Soalnya beberapa kereta tidak memiliki speaker/map dalam bahasa Inggris, jadinya rada ribet kalo ngarepin denger dia ngomong). Ya Tuhan, maafkanlah aku malah mengeluh seperti ini T_T *Curcol mode* *Plakk* Well at least, positifnya, jadi ada cerita yang bisa saya bagikan di blog ini. Karena tak selamanya liburan itu bakal mulus, kadang ada kerikil yang mengisi perjalanan. Di situlah seninya *sok bijak*

yukiko

Itulah kamar yang kami tinggali di Lucent Oden Namba. Tidak seluas di tempat Satoshi memang, tapi ruangannya bersih. Dan fasilitasnya juga okelah. Saya sempat mengurus cucian saya di mesin cuci malah..

Nah di Osaka sempat hujan dan angin besar. Untungnya tidak lama karena kami tiba sudah siang/sore. Setelah mengisi perut (lagi-lagi dengan makanan Korea), kami menuju ke Shinsaibashi, Amemura, Dotonbori (Stasiun Shinsaibashi) kebetulan kan deketan semua. Lagi-lagi thanks to pocket wifi and google maps jadinya bisa jalan-jalan efektif. Mampir ke W Cafe juga buat fangirling KrunkxBigbang. Terakhir mampir sebentar ke Namba Parks.

shinsaibashikrunk (1)

Hari ke-6 menuju ke Kyoto seharian

Fushimi Inari (Stasiun Inari) dengan ciri khas torii nya yang merah menyala. Saat keluar stasiun, Anda bisa langsung melihat lokasi wisata yang satu ini. Anda bisa berfoto, menulis wish, membeli suvenir, sampai mencoba jajanan yang ada. Setelah berfoto-foto dan jajan-jajan, perjalananpun dilanjutkan menelusuri deretan toko-toko dengan gaya tradisional di daerah GionCentre, Sannen zaka, Kiyomizu zaka (Stasiun Gojo/Shijo). Sampai seharian selesai.Lagi-lagi terbantu dengan pocket wifi saat mengelilingi area Gion.

fushimi

fushimiinari (1)

food

Hari ke-7 alias hari terakhirrr.. Setelah melewati perjalanan melelahkan dengan bantuan internet (benar-benar crucial banget deh, tertolong dengan adanya pocket wifi) soalnya walaupun sudah printout itinerary dari Jakarta, sampai di lapangannya bakal ada perubahan dan penyesuaian. Jadi Hyperdia sangat diperlukan mencari rute ini itu. Sangat tertolong dengan Google Maps juga.. Hari terakhir hanya mengunjungi Osaka Castle (stasiun Osakajokoen/Morinomiya). Lalu ke Hepfive (Umeda). Ya.. berhubung sudah tidak pegang pocket wifi lagi di hari terakhir ini, jadi mengunjungi tempat mainstream yang mudah dan tidak perlu dicari-cari lagi dengan Google Maps. Semua alternatif rute pun sudah saya catat lengkap untuk mengatasi semua kemungkinan perubahan yang dapat terjadi di perjalanan.

Dan untuk kembali dari Osaka ke KIX (Kansai International Airport) kami menggunakan bus saja supaya tidak repot dengan barang bawaan. Kebetulan dari pagi kami sudah checkout dan menitipkan koper di locker koin seharga 400-500 Yen di OCAT. Jadi kami naik bus dari OCAT.

osaka

Overall biaya yang dikeluarkan adalah sebagai berikut:

Visa : Rp. 330.000

Tiket : Rp. 5.600.000 (sudah include PP, Bagasi, Meals) *Bisa lebih murah lagi kalau penghematan di add on bagasi/meals/kalau dapat tiket promo yang lebih murah

Airbnb: Rp. 6.970.800 + 3.566.800 = Rp. 10.537.600 / 4 = Rp. 2.634.400 *Bisa lebih murah lagi kalau cari apartment yang sharing sama host/pergi beramai-ramai dan cari apartment yang lebih murah

Transportasi, makan, belanja, tiket masuk, dll selama perjalanan = 44.000 Yen = Rp. 5.280.000 (dengan rincian: IC Card 9.000 Yen, Tiket bus dari OCAT – KIX 1.050 Yen, Shinkansen 14.250 Yen, Tiket Yomiuri Land dan Bungee Jumping 1.900 Yen, dan selebihnya adalah biaya makan, belanja, dan lainnya 26.800 Yen.)

>>> Total:  Rp. 13.844.400 (Rate Yen = Rp.120)

Pengalaman Mengurus Visa Jepang


Kali ini mau berbagi pengalaman saat membuat visa Jepang minggu lalu.

Untuk pengguna E-Paspor memang sudah ada kebijakan bebas visa dengan melakukan registrasi. Namun, pemilik paspor biasa seperti saya masih tetap harus mengurus pengajuan visa seperti biasa. Saya akan berangkat 7 minggu lagi.

Berhubung lokasi embassy Jepang berada di dekat Bundaran HI / Plaza Indonesia. Pasti yang pernah wara-wiri di daerah sana, bisa menemukan gedung dubes ini dengan mudah.

Saya pergi ke embassy naik busway. Pilih jurusan yang ke Blok M. Berhubung Halte Bundaran HI sudah tidak ada, maka kita bisa turun di Sarinah atau Tosari ICBC. Menurut pengalaman jalan kaki saya, rasanya dari Halte Sarinah lebih dekat daripada dari Tosari ICBC. Cukup berjalan lewat trotoar, tanpa melewati Bundaran HI. Atau kalau capek/mengejar waktu, kita bisa saja turun di Tosari ICBC dan lanjut Kopaja 19 ke arah embassy.

Berikut jadwal operasional untuk pengurusan visa:
Hari Senin – Jumat, (kecuali pada hari libur nasional dan libur Kedutaan)
Pengajuan Permohonan Visa : pk. 08:30 – 12:00
Pengambilan Paspor : pk. 13:30 – 15:00

Hal pertama adalah tukarkan KTP dengan visitor’s card, lalu lewati pintu pertama, kita akan disambut scanning security. Melewati pintu selanjutnya, kita sudah bisa melihat pintu kaca menuju ruang tunggu pengajuan Visa Jepang. Masuk saja ke pintu tersebut dan ambil nomor antrian di mesin A untuk pengurusan visa.

Di dalam ruangan, ada 5 loket, untuk pengurusan visa pribadi ada 2 loket. Yakni loket nomor 2 dan 3. Setelah ambil nomor antrian, silakan duduk dan menunggu tiba giliran.

Saya sendiri tiba sekitar Pk.08.40. Nomor antrian 23. Tidak terlalu lama saya menunggu, akhirnya giliran saya tiba. Memang prosesnya cepat sekali. Saya diminta menyerahkan dokumen (tanpa perlu map, dkk) Cukup dokumen yang sudah dijepit pakai penjepit kertas saja. Urutannya harus sesuai petunjuk di web ya! Oh ya, cek alamat di KTP kamu dan pastikan wilayah Yuridikasinya sesuai ya. Jangan sampai domisili Bali tapi pengajuan di Jakarta.

Dokumen-dokumen yang perlu dilengkapi dalam mengajukan permohonan visa:

  1. Paspor.
  2. Formulir permohonan visa dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram.
  3. Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili)
  4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)
  5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
  6. Jadwal Perjalanan (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
  7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu)
  8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
    Bila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya
    * Fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan

Proses yang memakan waktu adalah persiapan semua dokumen di atas. Hehe.. Agak rempong karena saya harus mengurus 4 orang anggota keluarga. Mulai dari fotokopi, menyusun itinerary, print tiket dan bukti booking hotel, sampai mengisi form, dan pengajuan visa mereka. Oh ya, kalau mau mengajukan visa untuk orang lain, bisa lho diwakilkan asalkan membawa dokumen bukti hubungan keluarga seperti fotokopi KK atau surat lahir.

Berikut dokumen dari saya:

  1. Paspor masa berlaku min. 6 bulan
  2. Formulir visa (download dari web) yang rada membingungkan karena sempat baca-baca untuk pengisian “none” jika tidak ada jawaban. Saya sendiri menggunakan “none” pada pertanyaan yang saya jawab tidak ada. Misalnya guarantor atau inviter. Sedangkan kalau nama saya surname dan nickname saya kasih strip saja. Sedangkan foto ukurannya 4.5 x 4.5 cm BG putih, wajah jelas, tempelkan di form.
  3. Fotokopi KTP maupun semua dokumennya dalam A4 biar rapi.
  4. Tidak ada
  5. Bukti pemesanan tiket Air Asia yang dibeli pas lagi ada promo. Berangkatnya ke Tokyo dan pulang dari Osaka. Harganya PP sekitar 5.1 juta.
  6. Jadwal perjalanan (itinerary mengikuti form yang dapat didownload dari web)> Itinerarynya simple saja, tuliskan mulai tanggal berangkat sampai kembali ke Indonesia ya. Saya sendiri berencana mengunjungi Tokyo, Osaka, Kyoto dalam waktu 1 minggu, itinerary sederhana saja misalnya ke tempat wisata umum: Harajuku, Shinjuku, Shibuya, Kawagoe (day trip), Disneyland, Gion, Osaka Castle, dll. Sertakan juga bookingan tempat menginap. Saya menginap menggunakan jasa Airbnb.
  7. Saya menyertakan fotocopy Akte Lahir dan Kartu Keluarga karena mewakili anggota keluarga saya yang lain. Rada deg-degan soalnya KK nya masih pakai KK daerah.
  8. Saya menyertakan fotokopi rekening tabungan cover dan mutasi rekening dari internet banking. Plus surat keterangan kerja supaya memperkuat.

Saat pergi ke dubes, saya juga membawa cadangan fotokopi surat-surat, pulpen, lem, buat jaga-jaga saja. Jadi jika ada yang kurang, bisa langsung diurus tanpa perlu bolak-balik datang lagi.

Ternyata di Hari-H, petugas memeriksa dokumen saya dengan sangat cepat. Tak sampai 5 menit sudah selesai. Padahal saya baru selesai mengisi form/bukti pengambilan paspor. Eh.. Bapak yang bertugas sudah selesai memeriksa kelengkapan dokumen. Tidak ada revisi. Hanya saja bukti tiket, itinerary, dan bookingan hotel dikembalikan ke saya. Sepertinya cukup 1 copyan saja karena mewakili 1 keluarga.

Sayapun bertanya apakah dokumennya sudah lengkap semua. Bapak yang bertugas menyatakan untuk sekarang sudah memenuhi tapi jika nanti dicek oleh bagian visanya dan mereka butuh dokumen tambahan maka mereka akan menelepon saya. Jika tidak ada telepon dalam waktu 4 hari kerja, silakan langsung datang lagi ya di jam pengambilan paspor dan bawa uang pas.

Sesuai dengan waktu 4 hari kerja, sayapun kembali ke sana pada jam 13.45. Sesampainya di sana sudah ramai sekali. Bahkan hanya ada beberapa kursi kosong. Antrian saya nomor 252. Sedangkan yang sedang dipanggil adalah nomor 185. Jadi saya duduk sambil menunggu selama 1 jam lebih. Akhirnya giliran saya tiba. Saya memberikan bukti pengambilan paspor dan tadaa.. visa sudah tertempel di paspor. Saya membayar dengan uang pas dan mendapat kuitansi pembayaran.

2015-08-11-21-27-07_deco_resized

Begitulah proses pengajuan visa ke Jepang versi saya!