Ketika Cobaan..


Sudah lama papa mengalami masalah kencing, seperti tidak tuntas, sedikit-sedikit, dan terus berlanjut lama. Ketika papa menjalani tindakan TURP untuk mengatasi striktur uretra (penyempitan saluran kencing), kami keluarganya mengira semua akan baik-baik saja. Apalagi ini menjadi hal yang sudah biasa dilakukan oleh dokter. Sebut saja dokter Y di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta.

Namun, sungguh di luar dugaan kami. Setelah 1-2 hari post TURP, kateter papa masih belum berisi urine dalam jumlah normal. Malah urinenya sangat sedikit dan masih bercampur darah. Kondisi papa drop sekali kala itu. Kakinya bengkak. Lalu jangankan berjalan, kondisi untuk bergerak di atas kasur juga susah. Sampai akhirnya dokter curiga ada yang tidak beres dan menyuruh papa USG. Sungguh shock saat dokter berkata bahwa ginjal papa mogok kerja. Kami sungguh bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana penanganannya kenapa tiba-tiba bisa mogok kerja dan karena ureum dan kreatininnya sudah tinggi, papa harus HD (cuci darah). Hemodialisis tentu menjadi momok tersendiri bagi setiap orang yang mendengarnya. Nilai normal ureum : 15 – 40 mg/dl; dan kreatinin : 0,1-1,5 mg/dl. Sedangkan Papa sempat mencapai ureum dan kreatinin tertinggi pada 24 Oktober 2016 puncaknya ureum 186 dan kreatinin 12.09. Padahal awalnya per tanggal 17 Oktober 2016 19 dan 0.93 saja.

Setiap hari kami cuma bisa berdoa dan mencari tahu tindakan terbaik untuk papa. Kami orang awampun tidak bisa tahu banyak tentang penyebab gagal ginjal akut ini. Dokter hanya berkata kalau itu bisa disebabkan oleh beberapa aspek seperti dehidrasi, ada pendarahan, dll. Tanpa memberikan jawaban jelas dan pasti. Kami sungguh dalam kondisi galau. Hari demi hari dilalui namun kondisi masih belum ada perubahan berarti. Kalau setelah post HD membaik, bengkak cairan sudah disedot, tapi besok-besoknya kembali bengkak. Fungsi ginjal belum kembali normal. Karena tidak ada solusi, serta dari dokter tampak sudah bingung juga, ditambah lagi di RS itu dokter internist sub ginjalnya tidak jelas, sebentar bilang cuti, sebentar bilang sudah masuk kerja, sebenatar cuti lagi, sebentar urus izin praktek, membuat kami semakin tidak puas. Akhirnya kami memutuskan mencari opsi RS dan dokter lain, atas dorongan keluarga besar.

FYI gagal ginjal akut adalah gagal ginjal yang terjadi mendadak. Sebelumnya kondisi pasien baik, tapi bisa jadi setelah operasi misalnya, tiba-tiba ginjalnya mogok. Kalau akut, masih bisa peluang disembuhkan. Beda dengan gagal ginjal kronik yang biasanya terjadi dalam jangka waktu panjang, seperti orang yang sudah menderita diabetes dalam jangka waktu lama.

Setelah mencari dokter ginjal yang direkomendasikan, mulai dari di RSCM Kencana, RS PIK, dan Grha Kedoya, akhirnya Papa pun pindah ke Grha Kedoya. Kami terus berdoa agar mendapat jalan terbaik untuk kesembuhan Papa.

Untungnya syukur kepada Tuhan. Kami bertemu dokter. Med. Salim Lim, Sp.PD-KGH, FAMS, FASN. yakni internist yang spesialisasi di Ginjal. Sebelumnya kami sudah mendapat informasi mengenai dokter ini sebagai salah satu dokter yang sangat banyak dicari di Grha Kedoya. Background pendidikan di luar dan pengalaman di luar menjadi salah satu review positif dari group online yang saya baca. Menurut pasien, orangnya juga baik. Dokternya sendiri tidak menjanjikan bla bla bla. Ia sepertinya curiga dengan obat yang diberikan kepada Papa saya. Dia sendiri tidak banyak bicara karena tidak tahu juga bagaimana penanganan TURP dan post TURP selama di RS terdahulu. Karena dari dokter urologi terdahulu tidak memberikan jawaban pasti mengenai sebab gagal ginjal akut.

Setelah beberapa hari di sana, dokter masih menginstruksikan HD sambil mencari pengobatan dan tindakan yang tepat untuk Papa. Kami sempat galau juga karena masih HD dan HD. Namun, kondisi fisik Papa tidak separah seperti di RS terdahulu. Kami juga sempat drop sekali saat dokter jaga sempat bilang kalau ureum kreatinin naik terus, masih HD dan HD seolah menyatakan bahwa fungsi ginjal seperti itu tanda-tanda sudah rusak. Rasanya air mata ini sudah habis dan sudah tidak bisa berpikir lagi.

Namun, dari dokter Salim, berkata bahwa terus dilakukan pengobatan dan dicari penyebabnya. Selang beberapa hari dokter curiga ginjal yang mogok ini dari reaksi alergi penolakan terhadap salah satu obat. Sepertinya yang pernah ia curigai di awal. Setelah memberikan pengobatan anti alergi, barulah kondisi Papa terlihat membaik secara bertahap tanpa HD. Akhirnya setelah sekitar 2 minggu (dari 1-15 November) di Grha Kedoya, Papa boleh pulang. Rawat jalan dilakukan, mengingat Papa harus terus dipantau dengan cek lab rutin.

Per Desember Ureum dan Kreatinin papa sudah menyentuh angka normal. Nilai normal ureum : 15 – 40 mg/dl; dan kreatinin : 0,1-1,5 mg/dl.

Bulan depan baru Papa dijadwalkan kembali bertemu dengan dokter Salim untuk kontrol.

Sungguh berterima kasih pada Tuhan dan juga melalui tangan dokter Salim.

Bagi teman-teman yang berjuang demi kesembuhan, apapun itu. Terus berdoa dan mencari jalan terbaik. Jangan ragu mencari second opinion jika dirasa perlu. Jika dirasa di RS sudah tidak ada perubahan perbaikan kondisi, Anda bisa mencari referensi second opinion dulu apakah memang perlu pindah RS atau tidak. Kepada keluarga pasien teruslah banyak berdoa dan pastinya harus super SABAR baik secara fisik dan mental akan sangat diuji. Jaga kesehatan walaupun tidak bisa tidur berhari-hari jaga pasien, saat ada waktu istirahat, istirahatlah. Makan teratur agar jangan sakit. Kuatkan diri secara fisik dan psikologis.

Advertisements

One thought on “Ketika Cobaan..

  1. Pingback: Trip to Korea 2017 | nataliciousday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s