What is Your Worst Shopping Experience? Here’s Mine: Nama Studios!


Jarang-jarang banget nulis review kayak gini. Nggak pernah malah. Tapi saking buruknya pengalaman bersama NAMA Studios. Keki banget jadilah tertuang kekesalan ini dalam tulisan.

Diawali Bulan Februari, ada promo diskon pre-order tas selama tiga bulan. Jadi selama tiga bulan kita akan menunggu sampai pesanan kita ready. Namun 3 bulan itu cuma mitos alias delu aja. Karena sudah 5 bulan, tas itu tak pernah jadi sampai tulisan ini tayang.

nama.png

Kilas Balik

Di Bulan Mei sesuai dijanjikan pun tiba. Tepatnya akhir Mei, baru ada email notifikasi tas udah di pihak ekspedisi namun tidak ada resi. Alasannya ada banyak tas yang dikirimkan. Nanti akan menyusul bertahap (Hmm masih fine ya. Masih nunggu dengan sabar lho selama tiga bulan itu ga sekalipun saya ngerecokin Nama). Sampai pada akhirnya dari Mei ke Juni sudah dua minggu belum ada updatean resi. Lha tas saya ke mana masa di pihak ekspedisi JNE terbengkalai selama dua minggu belum dicetakin resinya. Udah janggal tuh. Trus selang Lebaran berdalih alasan libur Lebaran, maka mungkin JNE akan mengalami keterlambatan. (Kembali membuang kesalahan ke JNE). Abis libur Lebaran tuh Bulan Juni saya akhirnya follow up. Dikasih link terms and condition intinya Nama boleh melewati batas waktu PO dan customer harus siap dan rela digituin sama Nama. (Di sini udah keliatan berarti Nama menggunakan point itu agar bisa sesuka hati delay). Kalau ada yang nanya, maka cuma akan dibalas berupa link T&C tersebut.

Teman saya yang pesan tas Nama kan ada beberapa. 1 model yang dipesan 1 orang sudah sampai itupun abis Lebaran. Yang sisanya beberapa orang masih menunggu. 1 orang akhirnya pickup (memang dia pilih merode pickup] dan ternyata sampai di sana tas warna pesanan dia KOSONG dan ditawari ganti warna. (Ketidakprofesionalisme Nama. Padahal teman saya sudah dijadwalin untuk datang dan tiba di sana mau ga mau harus ganti warna tas). Dan info dari staff lapangan bahwa memang tas pesanannya ada yang kosong. Artinya tas saya dan teman lain yang belum sampai kemungkinan besar mrmang tidak ada. Alasan sebulan beradai di JNE hanya BOHONG. (Parah lho masa dibuang ke JNE merusak nama baik usaha orang lain). I’m shocked.

Mendengar info tersebut. Saya kembali follow up dan lagi-lagi mendapat jawaban SOP. Saya pun minta solusi. Sedangkan teman saya yang satunya bilang dia sudah marah-marah kata dia kalau disuruh nunggu, dari 3 bulan. 4 bulan, 5 bulan, lama-lama 6 bulan. Dia mau dapat double pesanannya karena double dua kali lipat waktu nunggunya. Barulah pada saat keesokan harinya dikirim pakai JNE dan diganti dari REG ke YES.

Sampai saat ini sudah pertengahan Juli. Akhirnya sudah 5 bulan belum ada itikad baik dari Nama. Saya sudah minta refund dan katanya akan diproses 2 hari kerja. Tapi ini sudah lebih dari dua minggu dari sejak saya kasih nomor rekening. Saat ditanya ke CS jawabannya disuruh email ke bagian payment. Namun email saya tidak pernah dibalas dari 5 hari yang lalu. Amazed.

It’s the worst shopping experience ever.


Di saat bersamaan lagi BT sama Nama. Kiriman paket aku dari NBCUniversal SG baru saja tiba Sabtu, 21 Juli 2018 kemarin. Guess what. jadinya kepikiran membandingkan pelayanan antara kedua perusahaan ini. Saya konfirmasi alamat pengiriman Hari Jumat siang, Sabtu sore tiba! Kece badai! Padahal dari Singapura dan biasanya setelah konfirmasi mereka butuh beberapa hari kerja memproses. Tapi ternyata way faster than I expected.


Saya sendiri kerja 7 tahun menghandle customer. Jadi saya tahu persis bagaimana complain dan pujian dari customer. Dan saya tahu mana yang profesional dan mana yang tidak peduli sama customer.

Advertisements

Busan and Seoul for Summer


Hello, Busan!
First time in Busan. Mendarat di Gimhae Int’ Airport, cukup naik limousine bus. Harganya memang lebih mahal daripada subway. Tapi dengan naik limousine bus ini, kami tidak perlu transit dan geret-geret naik turun subway station. Tinggal duduk manis sampai di Seomyeon Lotte Hotel bus stop, lalu jalan kaki 5 menit ke Hansol Polaris (Airbnb) tempat kami menginap. Dari bus stop pas celingak celinguk sudah kelihatan gedung Hansol Polaris yang menjulang tinggi.

Limousine Bus *Domestic/International Terminal 1st Floor Bus Stop 2* (6,000Won- 35min)
Rute:
International Terminal – Domestic Terminal-Baek Hospital Sageori – Gaya Homeplus – Gaya Hyundae Apt- Seomyeon Lotte Hotel-…

Selama di sana apps yang digunakan adalah Naver Map yang memiliki rute by bus/subway/kendaraan pribadi/ataupun jalan kaki. It works really well. Mau ke mana-mana tinggal buka Naver Map saja.

Dan baru tahu info cara naik bus di Busan. Kalau di Seoul kan kita naik dan turun tap T-Money. Di sini, ternyata tidak perlu tap saat turun bus. Kecuali kalau kita mau transit. Misalnya kita naik bus 111 dari stop 1 lalu turun di stop 2 (hanya transit) untuk pindah naik bus 122. Maka kita bisa dapat diskon. Saya kurang ingat berapa perhitungan diskonnya dan masa waktu transitnya. Tapi ada infonya di web resmi mereka.

 

DAY 1: Rabu, 13 June

TAEJONGDAE
Look for the Bus Stop for Bus No. 88 nearest you. Alight at the last stop in front of Taejongdae.
Walk from Hansol Polaris 12 min 779m
Board: Seomyeon Stop 05-240
Take Bus: 66 or 88A
Arrive at Taejongdae Ocheon. Continue walking 7 min 455m

The bus journey ifself is around 55-60 minutes and the bus should come every 10 minutes.

Di sana ada yang namanya Danubi Train, si kereta lucu yang bisa mengantar kita keliling area Taejongdae. Jadi nggak usah susah-susah memaksakan diri jalan kaki.

Danubi Train Course (Individuals: Adults 3,000 won). Beli di loket yang tersedia.

taejongdae

Lighthouse

HAEUNDAE
Walk from Taejongdae 6 min 432m
Board: Garage Stop 04-024
Take Bus: 101
Get off and Board from: Jungangdong (Jungang) 01-041
Take Bus: 1003
Arrive at Haeundae Beach Stop. Continue walking 3 min 195m.

Pantainya sendiri sebenarnya biasa. Hanya saja di Haeundae ini banyak resto-resto yang bisa dicoba.

CAFFE CUOIANO
Jeonpo exit 8 go straight, Toyoko Inn Busan Seomyeon on the left, but we turn right
Tiramisunya enak. Jadi inget pas jalan kaki di sini, nemuin credit card yang jatoh di trotoar. Ntah apakah ditemukan pemiliknya atau diambil orang lain, yang jelas sih pas balik tiba-tiba udah nggak ada tuh credit card.
Di Jeonpo ini juga ada Jeonpo Cafe Street yang cocok untuk kalian yang suka mengunjungi cafe-cafe mungil nan cantik.

 

DAY 2: Kamis, 14 Juni

GAMCHEON CULTURAL VILLAGE
From Toseong Station, kita bisa naik local bus tapi katanya sering penuh jadi kalau mau lebih nyaman dan mengejar waktu bisa naik taxi. From Toseong Subway Station continue by taxi. The taxi fare is around 3,300 won. Taxi drivernya ngebut bo! Pengalaman baru nih naik taksi di sini. Btw, siap-siap ngantri foto sama si Little Prince ya.

terciduk.jpg

Terciduk

Di sini kalian bisa beli peta mural map seharga 2,000 won.

JAGALCHI FISH MARKET
Jagalchi Station (110), Exit 10

GUKJE MARKET / BIFF SQUARE STREET FOOD
Jagalchi Station Exit 7

NAMPODONG UNDERGROUND SHOPPING CENTER
Jagalchi Station Exit 8

GWANGBOKDONG Cultural & Fashion Street
Nampo Station (Busan subway line 111), Exit 1

YONGDUSAN PARK
Nampo-dong Station (Busan Subway Line 111), Exit 1

ROOF AND
Near main entrance Yongdusan Park (Cont Hotel 8th floor)

Tempat-tempat di atas berdekatan semua dan bisa sekaligus dikunjungi bersamaan. Tinggal cari direction di Naver Map. Untuk Jagalchi, Gukje Market, dan BIFF Square sih kami hanya numpang lewat saja. Nampodong juga ternyata fashionnya rada kurang oke ya. K-stylenya kurang deh. Jadi kami skip dan menuju Gwangbokdong yakni area Myeongdongnya Busan. Di sini memang mirip Myeongdong karena banyak toko-toko kosmetik seperti Etude, Nature Republic, Skin Food, dan lainnya. Selain itu ada Fila juga.

GWANGALLI BEACH
Memang kami sudah mengincar foto-foto malam di sini. Bad news saat lagi foto-foto, air ombak menerpa. Sepatuku basaaaahhhh fyuuhh..

gwang

Gwangandaegyo Bridge

DAY 3: Jumat, 15 Juni

KTX Busan to Seoul

Untungnya berangkatnya siang. Jadi punya waktu tidur dan packing yang cukup. Nggak buru-buru. KTX 128 Busan – Seoul (59,800Won)

Kalau bawa koper besar, carilah subway station yang punya eskalator atau lift. Seperti Seomyeon Station Exit 8/9 seingat saya sih kami lewat sana.

Sampai di Hongdae tempat kami menginap untuk menitipkan koper terlebih dahulu.

Setelah itu, kami belanja makanan di E-Mart yang ada di Yeongdeungpo Branch (Times Square) B2F/B1F. Note: E-mart closed on 2nd 4th Sunday.

E-Mart
Yeongdeungpo Station

Kami cukup lama berkutat di sana. Belanjaan makanan pun semakin menggunung. Dan bodohnya kami meletakkan semua belanjaan dalam satu dus besar. Jadi pas mau diangkat, itu dus berat banget. Harusnya kami pisah jadi dua dus kecil saja. Gara-gara ini, kami naik taksi untuk pulang ke Hongdae. Sekitar 7,000 Won.

Dannnn saat balik ke apartemen, ternyata host belum selesai bersih-bersih padahal sudah jam 5 lewat dan checkin time seharusnya jam 4 sore. Bikin BT kan. Tempatnya juga sempit. Kami ke sini karena faktor biaya dan lokasi dekat dengan exit 5 sih. Pertimbangannya exit 5 juga ada eskalator. Dari AREX jalan sedikit sudah ketemu exit 5. Dari exit 5 cuma jalan ke arah Seven Eleven, ikuti jalan ke arah gedung berbata merah, belok kanan.

EWHA
Ewha University Station
Mencari titipan lightstick di El Cube (Ktown4u) dan masker di Skinfood

DDP
Dongdaemun History and Cultural Park Station
Mencari titipan lightstick di El Cube (Ktown4u) dan masker di Tony Moly. Mampir di Migliore hanya sekedar muter-muter sebentar melihat-lihat baju.

 

DAY 4: Sabtu, 16 Juni

HANEUL PARK
Haneul Park ini bagian dari World Cup Park. Di Haneul Park terkenal Eulalia dan Cosmos Flowersnya. Lebih identik lagi kalau datang pas autumn kali ya karena saat summer eulalianya juga hijau tidak kuning kecoklatan.

jaga ladang.jpg

Jaga Ladang

World Cup Stadium Station (Seoul Subway Line 6), Exit 1. Kami pun mengikuti petunjuk dari blog yang kami baca. Follow the big road and turn left to cross the street at the 4-way intersection.
You’ll see the Haneul Park signage. Nah dari situ kami agak bingung dengan direction di blog. Untungnya ada Naver Map. Di sana ada info lokasi ticket counter admission 3,000 Won round trip Haneul Park. Nggak sanggup deh kalau jalan kaki. Mendingan bayar train.

TOKYO BINGSU MANGWONDONG

SIGOL BAPSANG ITAEWON

sigol.jpg

Nyammm

Banchan alias side dishnya sangat menarik untuk difoto. Lucu ya. Walaupun sedikit tapi variannya beranekaragam dan bikin kenyang juga kok.

NIGHT PHOTO around Cheonggyecheon Stream and Gwanghwamun.
Di malam minggu, Cheonggyecheon Stream ramai dengan night market dan di Gwanghwamun ternyata masih ada semacam peringatan Sewol Ferry accident.

gwanghwamun.jpg

Speednya > 15 detik ya dan tunggu sampai lampu hijau biar kelihatan cahaya kendaraan lewatnya

Ada beberapa orang lain yang juga hunting foto malam menghadap Gwanghwamun ini.

 

DAY 5: MINGGU, 17 JUNI

STARFIELD COEX Mall : Samseong Station (Seoul Subway Line 219), Exit 6. Follow the underground passageway connected to Starfield COEX Mall -> Located on floor B1-1F. Tahu kan tempat instagrammable cantik yang satu ini.

baca.jpg

Baca!

GANGNAM UNDERGROUND SHOPPING CENTER
Direction: Gangnam Station (Seoul Subway Line 222, Sinbundang Line), Exit 1 or 12.
Keliling-keliling nemuin tas dan celana di sini. Tapi untuk baju-baju kayaknya ga ada yang menarik di mata.
Oh ya di Gangnam ini juga ada Daiso.

DECIEM The Abnormal Beauty Company (Desiem)
The Ordinary
Direction: Sinsa Station Exit 8

NIGHT PHOTO around NAKSAN PARK
Pertamanya ke Ihwa Mural Village dulu. Tanjakannya astaganaga.Dari Hyehwa Station sebenarnya sudah tidak jauh lagi. Tapi tajakannya bikin ngos-ngosan. Saya lelaaahh. Langsung aja cus ke Naksan Park deh cari bangku duduk dulu. Setelah itu baru lanjut jalan lagi.

tripod.jpg

The Power of Tripod

DAY 6: SENIN, 18 JUNI

YONGMA LAND

Mangu Station Exit 1 lumayan jauh kalau jalan kaki. Jadi bisa naik taksi sekitar 3,000-4,000 Won. Entrancenya 5,000 Won. Tempat ini sepertinya cukup terkenal di kalangan lokal. Selain sudah jadi tempat lokasi pemotretan dan syuting, ajushi taxi driver juga bisa langsung tahu lokasi Yongma Land. Dia akan mengantar sampai ke jalan luar. Kita dikasih tahu jalan ke depan. Walaupun bahasa yang pas-pasan dan jurus kalimat “Saya bukan orang Korea/Hanguk saram anniyo” udah keluar, tetap saja ajushi ngajak ngobrol. Kurang lebih sih tahu ajushi nanyain oh dari negara mana? Pas dijawab Indonesia, dirinya kembali ngomong-ngomong pake Bahasa Korea. Teroooss terooss ajaaa wkwkwk.. Setelah itu kita masih harus jalan kaki lagi. Lagi-lagi dengan bantuan Naver Map. Kita sempat ragu karena kanan kiri pepohonan seperti hutan gitu. Tapi selang beberapa saat, kita sudah sampai. A tiny, failed, abandoned amusement park

carousell

Yongma Land

Jika di Busan, nemuin Credit Card. Di sini nemuin HP yang terbengkalai. Ckckck.. Sebelum pulang, kita balikin ke petugasnya.

MYEONGDONG
Keliling-keliling nemu juga baju yang kece buat dibeli. Makan di Yoogane dan foto-foto di STYLENANDA.

 

DAY 7: SELASA, 19 JUNI

05.28 first train from Hongik- Incheon (all stop train). Kirain bakal sepi karena masih pagi ternyata udah rame lho. Siap-siap cari tempat duduk biar nggak capek berdiri bawa koper.

 

Kia Ora from New Zealand


Yay, perjalanan ke New Zealand ini menjadi perjalanan pertama, sendirian ikut open trip, dan juga pengalaman skydive pertama.

Bucket list? Checked!
Ke sana ikut open trip. Dalam perjalanan 9 hari ini kita bakalan menjelajah north dan south island dalam waktu 9 hari. Awalnya sih tertarik karena banyak hari kejepit tanggalan merah. Diperkirakan cuma perlu cuti 4-5 hari. Tapi karena jadwal yang berubah ujung-ujungnya jadi cuti 7 hari deh. Kita naik Qantas dan transit di Sydney.
Kisah dibalik pembuatan E-Visa NZ bisa dilihat di sini
Kota pertama adalah Auckland. Yes! Kita mendarat di Auckland sore hari. Antrian custom yang panjang membuat kami kelar menjelang malam hari. Tahu sendiri lah customnya ketat. Saya sendiri membawa makanan instant yang dibungkus seal seperti mie gelas, sup instant, dan nasi instant. Serta membawa tripod (yes tripod pun saya declare karena benda yang dipakai di outdoor dan kemungkinan memiliki kontak dengan soil perlu dideclare). Obat-obatan juga di-declare baik obat bebas maupun resep dokter yang saya sertakan copy resepnya. Nyatanya petugas tidak terlalu mempermasalahkan bawaan saya karena makanan yang saya bawapun tidak mengandung daging segar, telur segar, dan sebagainya. Kalau cuma makanan instant seperti itu rasanya ingredientnya tidak dipermasalahkan karena bukan bahan makanan segar.
Okay kembali ke topik.
Day 1:
Simcard: 25
Makan: 12.5
Minum: 0.89
Total: 38.39
Menginap di Ibis Auckland Ellerslie, kamarnya cukup sempit kalau bawa koper gede. Karena hari sudah malam jadinya cuma numpang tidur saja di sini.
Day 2:
Skydive: 385
Bus: 3.5
Makan: 24
Train: 5.5
Convenience Store: 9.8
Total: 427.8
Besoknya siap untuk tandem skydive! Saya memilih operator GoskydiveNZ karena harganya yang kompetitif, pilihan paketnya yang cocok, dan yang asyik adalah kita bisa dipickup dari tempat kita menginap sesuai dengan jadwal skydive kita. Kalau beberapa operator lain ada yang pickup di meeting point mereka dan ada yang jadwal pickupnya sehari satu kali sehingga kita harus menyesuaikan jadwal mereka dengan jadwal kita tersebut.
skydive
How was it?
It was great! Ternyata tidak semenakutkan yang saya kira. Malahan IMHO lebih takut pas mau loncat bungee jumping. Mungkin karena faktor “loncat sendiri” saat bungee jumping. Sedangkan ini kan ada tandem instructor yang menemani kita. Sebelum loncat, kita sudah dibekali instruksi. Kepala hadap ke atas, kaki ditekuk, posisi tangan, dan sebagainya. Saat loncat yang saya rasakan hanyalah terpaan angin yang luar biasa. Mau teriak suaranya ga kedengeran bo! Soalnya ketutupan suara angin. Dihempas sekian detik barulah posisi kita bakalan normal lagi dan mulai fokus untuk menikmati pemandangan dari ketinggian.
Siangnya saya di drop off di Mt. Eden Summit. Dari sini foto-foto dengan latar view kota Auckland. Kita bisa melihat skytower dari Mt. Eden ini.
mteden
Selanjutnya saya sudah berencana berpetualang ke daerah Wynyard Quarter sampai malam hari. Biar bisa night photography. Gunakan Google Map untuk mencari halte bus terdekat ke tujuan berikutnya. Pengalaman naik bus yang menyenangkan. Tak masalah kalau tidak membeli kartu transportasi AT Hop Card, karena kita bisa bayar cash. Siapkan saja koin 3.5 NZD. Saya pun tinggal duduk manis sampai di Halte Britomart. Pencet bel kalau mau turun bus. Sambil memperhatikan penumpang bisa turun dari pintu depan dan belakang. Dari sana kembali menggunakan Google Map mengelilingi area tersebut. Dinner Fish and Chip di Crab Shack porsinya astaga.. Memang ya makanan di sini porsinya super deh. Two thumbs up! Nggak sanggup menghabiskan makanan sebanyak ini.
Menjelang malam, menuju Wynyard Quarter untuk mendapatkan view malam. Suasana sepi (baru hari pertama udah berasa sepinya dan semakin menjelajah NZ di keesokan harinya, semakin berasa pula slow life di NZ), angin 12 derajat semriwing, dan view pemandangan outdoor berlatarkan Sky Tower yang cantik tidak bisa kita rasakan di Jakarta.
wynyard.jpg
Oh ya, kembali dari Britomart Station ke Ibis Auckland Ellerslie yang termudah dengan kereta single ticket 5.5 NZD. Stop di Greenlane Station dan jalan kaki 5 menitan ke hotel. It’s quite easy. Keretanya juga sepii haha.. Padahal kalau commuter Jakarta jam segitu bakalan rame padet poooll. Oh ya, yang menarik di kereta ini. Saat tiba di pemberhentian kamu harus pencet tombol di pintu keluar agar pintunya terbuka. Semacam tombol buka tutup di lift. Jadi pintunya nggak otomatis terbuka. Kalau nggak ada penumpang ya pintunya tetap tertutup. Hmmm.. Berkelana sendirian tanpa ikut open trip seharian ini membuat saya merasakan public transportation mereka.
Day 3:
Makan: 18.5
Convenience Store: 2
Total: 20.5
 
Siangnya mampir ke One Tree Hill, Auckland. Selanjutnya perjalanan from Auckland to Rotorua, sekitar 3-4 jam perjalanan. Keliling-keliling cari makan, mengelilingi Lake Rotorua sampai puas, lalu ke motel, tak terasa ternyata sudah gelap. Sepiii..
Day 4:
Makan: 11
Convenience Store: 5.27
Total: 16.27
 
Hari ini perjalanan ke Mata Mata. Yup! Mau ke Hobitton asli made in NZ bukan Lembang ya. Sebelumnya kita sudah bayar 866.500 IDR ke pihak open trip. Jadi sampai sana tinggal ikut tur saja. Kita bakal dijelasin detail seputar tempat ini. Katanya dulu ada tim die hard fans Lord of the Rings yang datang mengelilingi lokasi-lokasi syuting LOTR dan saat ke Hobitton mereka bercosplay ria dengan kostum ala Hobbit.
hobbir.jpg
Balik dari Hobitton ada free time. Ada yang ikut optional Te Puia dinner 125 NZD tapi karena saya tidak tertarik jadi saya tidak ikutan. Lebih tertarik mengeksplor Kuirau Park sih. Soalnya ini geothermal park yang gratis dan pas lihat foto di jembatan dengan dihiasi asap-asap putih itu kayaknya keren dah. Eksplor sampai malam bo! Nggak suggest sih karena sudah gelap dan sepi kan bahaya. Ini gara-gara saya melihat kepulan asap kayaknya keren kalau night photography di sini. Haha..
kuirau.jpg
Kelar foto-foto, baru deh balik jalan kaki ke Union Victoria Motel. Oh ya mau review motelnya sendiri tua. Satu ruang cukup besar bisa memuat 5-6 orang dan ada dapurnya. Enak kan bisa masak-masak. Cuma karena sudah tua, jadi ada kesan kurang clean.
Day 5:
Toilet di Huka Falls: 0.5
Makan Burgerfuel: 7.5
Makan: 8.5
Total 16.5
 
Hari ini perjalanan ke Huka Falls dan Lake Taupo.
hukafalls.jpg
Serta numpang tidur di Willis Hotel Wellington. Kamarnya nyaman lho. Sayangnya cuma menginap semalam saja di sini karena pagi-pagi harus melanjutkan ke South Island.
 
Day 6:
Convenience Store: 8.75
Makan: 3.5
Subway Cookies: 1.1
Fergburger: 14.9
Oleh-oleh: 77.6
Total 105.85
Wellington to Queenstown by Jetstar menginap di Queenstown Village Apartment. Apartmentnya nyaman dan besar. Tentunya ada kitchen buat masak-masak cantik.
Mampir di Lake Wakatipu dan Lake Wanaka. Di Lake Wanaka rasanya kurang lengkap kalau belum menikmati si pohon ikonik satu ini. Walaupun harus menerjang angin kencang 20km/jam dan sempat oleng tertiup angin tapi demi sang pohon.
wanaka.jpg
Day 7:
Milford Sound: 150
Oleh-Oleh: 11
Total 161
Seharian menikmati pemandangan Milford Sound. Alias Halong Bay Vietnam kali ya. Beberapa kali kapal bergoyang ria tapi nggak bikin mabuk laut kok. Di sini sudah include transportasi PP, ferry, dan makan siang.
Day 8:
Oleh-oleh: 49.3
Makan: 7
Makan: 18
Total:74.3
Hello Christchurch! Eh sampai-sampai hari sudah sore. Soalnya perjalanan dari Queenstown ke Christchurch memang sekitar 6-7 jam ditambah mampir-mampir foto cantik di beberapa spot termasuk pinggir jalan Cromwell, Lake Pukaki, Lake Tekapo dan Church of the Good Shepherd. Berasa banget view yang cantik, air yang biru, dan gunung indah itu bagaikan healing theraphy. Btw.. Kalau slow life di sini cantik sih tapi bakalan bosen ga yaaaa…
We’re lucky to see this leftover Lupins yang mekarnya di musim panas. Secara udah musim gugur kirain ga bakalan ada Lupin lagi.
lupin.jpg
Sampai di Christchurch puas-puasin belanja dan siap kembali ke realita.
Day 9:
Kembali ke Jakarta dan menghadapi realita.
Oleh-oleh: 24.5
Tip: 50
Total: 74.5
Memang ya New Zealand itu rame dombanya haha.. Kalau mau slow life menikmati road trip dengan pemandangan indah bukit hijau, pegunungan, atau mampir di danau. Juara deh!
Untuk foto-foto narsis selengkapnya ada di @natbynatalia
Harap maklum kalau fotonya bagaikan photo studio dengan backdrop pemandangan cantik. Ini memang NZ pemandangannya secantik backdrop sih.

Cerita di Balik E-Visa New Zealand


Oke, kali ini saya akan berbagi cerita seputar apply e-visa New Zealand untuk keperluan visitor (tourism). Pengalaman kali ini benar-benar murni dilakukan dari depan komputer, tanpa harus pergi ke kantor VFS sama sekali. Ya! Jadinya sangat efisien dalam hal waktu. Terutama bagi yang kerja kantoran kan ribet ngurusin izin cuti bolak balik.

Untuk biaya visa secara online ini juga lebih murah. Sebagai perbandingan bisa dilihat pada halaman ini. Biaya untuk paper submission vs online submission adalah sebagai berikut:

paper submission.jpg

Paper submission

online submission.jpg

online submission

Selain itu menurut saya pribadi, enaknya via online itu ngisi form permohonan secara online. Nggak perlu repot-repot print semua syarat. Kita juga bakal bisa lebih teliti mengisi setiap dokumen yang dibutuhkan. Contohnya pas saya upload foto untuk aplikasi, ada error message bahwa foto yang diupload dianggap terlalu cerah/gelap. Mohon dikoreksi kembali. Setelah saya kurangin brightnessnya, ehh beneran langsung berhasil. Wah.. Ternyata ada 1 page khusus juga info tentang error message dan apa yang harus kamu lakukan. Petunjuk di web cukup lengkap.

Kerugiannya? Karena e-visa, jadi nanti visanya diemailkan dan print biasa. Jadi nggak ditempelin seperti visa fisik. Selain itu, karena saya pakai jasa kurir waktunya jadi lebih panjang. Proses menunggu kurir datang, kirimin ke VFS, sampai dikirim balik lagi. Trus, kalau datang langsung mungkin ada hal yang kurang jelas bisa kamu tanyakan langsung ke petugas VFS langsung 4 mata di sana. Tapi kalau soal info sih kamu bisa telpon langsung ke sana karena berdasar pengalaman sih, petugasnya cukup informatif dan membantu lho.

Oh ya, jadi kembali ke tahapan yang harus disiapkan untuk apply visa secara online. Pertama kamu bisa membuka halaman ini, pilih tujuan kamu misalnya visit, lalu explore visa option, masukkan negara, less than 3 month, tujuan holiday. Dari kriteria tersebut muncullah bahwa yang saya perlukan adalah visitor visa dengan detail di halaman ini kita bisa check criteria atau apply now.

Untuk apply secara online, kamu harus punya akun RealMe. seperti yang tertera di halaman itu. Ya, benar! Kalau belum punya silakan signup dulu ya.

Dokumen yang saya siapkan untuk apply online adalah:

  1. Pas Foto (Harus sesuai ketentuan)
  2. Scan halaman paspor
  3. KTP
  4. Surat referensi dari kantor isinya standard dan kamu bisa googling contohnya
  5. Surat cuti
  6. Bukti keuangan. Surat referensi bank, bukti rekening 3 bulan terakhir, slip gaji 3 bulan terakhir biar lebih meyakinkan
  7. Bukti booking akomodasi dan tiket jika ada
  8. Tambahan KK
  9. Tambahan Itinerary

Jadi setelah kamu sign in dan apply now maka akamu akan dirahkan untuk mulai mengisi form aplikasi. Mulai dari nama, nomor paspor, upload dokumen dan lainnya. Perhatikan bahwa foto berupa JPEG sesuai ketentuan di atas. Sedangkan yang lain PDF dengan ketentuan tidak boleh lebih dari 10MB per file. Pokoknya tinggal ikuti info di web deh. Kamu bisa gabungin file secara bebas, mau itu pakai MS Word, Adobe, atau bisa juga secara online di web-web yang bisa merge/compress PDF gitu deh.

what you need.jpg

what you need to upload

Enaknya di sini, kita bisa save for later kalau memang masih belum kelar bisa nyicil ngisinya satu per satu. Nanti tinggal login dan lanjutin deh. Maklum memang isiannya lumayan banyak.

Nah, kalau sudah submit, kamu akan diarahkan ke thank you page. Di sini kamu bisa lihat nomor aplikasi kamu dan info bahwa paspor asli perlu dikirim ke VFS New Zealand di Kuningan City. Simpan thank you pagenya sebagai bukti.

Kalau kamu punya banyak waktu luang, kamu bisa datang ke sana sesuai jadwal dan alamat di link ini dengan membawa paspor asli, thank you page, dan uang untuk biaya. Tapi jika kamu sibuk kerja seperti saya. Kan nggak enak juga izin cuti lagi. Nah, solusinya ada jasa kurir.

Info lengkapnya ada di sini jadi silakan dibaca ya info layanan tambahan dan transfer bank. Intinya kamu siapin paspor asli, isi form yang bisa didownload dari web VFS tersebut, isi nama, nomor contact, nomor paspor, jumlah transferan, alamat pickup dan pengembalian paspor, dan lainnya. Tanda tangan dokumen. Transfer sesuai hitung-hitungan kamu. Misalnya saya download form ini dan biaya logistik 186.500, biaya kurir 2 way = 2×50.000. Total 286.500. Transfer ke rekening Standard Chatered mereka dan simpan slipnya. Selain itu, saya juga menemukan form persetujuan pembayaran ini

Nanti kalau sudah transfer, kirimkan screenshot thank you page, bukti slip pembayaran, form yang sudah kamu isi dan tandatangan ke email info.nzid@vfshelpline.com dengan subjek sesuai ketentuan. Domestik-Layanan Kurir 2 Arah untuk (Nama Kamu). Sertakan info lengkap seperti nama, nomor paspor, nomor aplikasi, detail alamat untuk kurir, detail pembayaran.

Selang beberapa jam, langsung ada email konfirmasi mohon menunggu 2-3 hari kerja untuk pick-up kuir. Oh ya, kamu harus siapin paspor asli, print thank you page, bukti slip pembayaran, form isian tadi juga saya print semua buat jaga-jaga dimasukin ke amplop bersama paspor asli aku.

Timeline:

Selasa, 13 Maret : Submit aplikasi secara online.

Rabu, 14 Maret: Pembayaran. Kirim email untuk meminta pickup paspor. Sore, kurir Aramex datang.

Kamis, 15 Maret: Sore, paspor tiba di VFS.

Jumat, 16 Maret: Mendapat email konfirmasi bahwa paspor sudah diterima dan akan diproses. Mendapatkan nomor referensi untuk melacak status aplikasi. Pemrosesannya 7-15 hari kerja.

Senin, 19 Maret: Paginya, mendapat email bahwa aplikasi sedang diproses pihak embassy. Eh, pas jam makan siang cek email. Sudah ada notifikasi bahwa paspor telah masuk dalam jadwal pengembalian pada Senin sore ini. Cepet bingits ya.. Tapi ternyata itu bukan berarti sudah ada kabar mengenai aplikasi e-visa kita. Itu cuma pemrosesan paspor doank. Sedangkan e-visanya sendiri masih belum ada kabar. Rasanya deg-degan nungguinnya ga sabaran. Tiap hari bawaannya mau ngecek email terusss..

Selasa, 20 Maret: Berlalu begitu saja

Rabu, 21 Maret: Jeng jeng.. Pagi-pagi taunya ada 2 email. Di badan emailnya tidak ada tulisan apakah visanya sudah granted. Mesti download attachment atau login akun RealMe itu dulu. Pas dicek ternyata tadaaa.. Yay! E-Visa pun terpampang manis di email dalam waktu 2 hari kerja setelah pemrosesan pihak embassy. Senangnya gak usah ketar-ketir selama 7-15 hari kerja deh hehe 🙂 Walaupun hanya granted single visa yang penting urusan apply visa NZ sudah kelar.

NZ visa approved.jpg

Granted, baby!

Oh ya, karena e-visa jadinya nggak akan ditempel di paspor. Kita harus print dan nggak boleh lupa membawa copy-annya tersebut bersama dengan paspor.

Keliling Kuala Lumpur dan Penang


Keliling Kuala Lumpur dan Penang dengan Uber!

Tahun 2017 pun ditutup dengan trip ke Malaysia. Ceritanya agak dadakan nih. Karena dibayarin ya sudah cabss.. Pakai acara perpanjang paspor dulu di Tubagus Angke lewat aplikasi antrian paspor. Untungnya dapat jadwal yang cocok tanpa menunggu terlalu lama.

Keliling dengan Uber adalah pengalaman pertama. Jika biasanya naik transportasi umum, keliling dengan Uber juga membawa pengalaman tersendiri.

Jadi karena pergi berempat, membawa orang tua, dan setelah melihat rute ternyata lebih hemat waktu menggunakan Uber, jadinya kami memutuskan untuk menggunakan moda ini untuk transportasi kami.

Rute perjalanan ditempuh dari CGK-KL (Promo KLM). Dari KLIA berpindah naik KLIA Ekspress menuju KLIA2. Hari sudah tengah malam saat tiba, agendanya beli simcard which is Tunetalk. Minta ampun deh makcik yang jaga counter kayak error gitu. Berkali-kali kebingungan menanyakan “Ini sudah belum ya?” “Ini tadi yang nomor berapa ya?” “Ini kenapa saldonya segini ya?” Laahh situ yang setting-in tapi bingung sendiri. Mana kita tahu.. Astaga! Setelah menguji kesabaran di antara rasa kantuk, kami akhirnya bisa menginap semalam di Capsule by Container Hotel di KLIA2 sambil menunggu flight ke Penang KL-Pen (Air Asia). Setelah subuh, kami bangun untuk mandi dan checkout. Menuju counter Air Asia Domestic lalu sarapan bubur dulu di KFC. Asli itu buburnya tawar pake banget. Udah coba diracik ini itu, nggak nafsu makan haha.. Buat ngisi perut doank biar nggak masuk angin.

Flight to Penang …………………..

22 Desember 2017. And finally we arrived! Untuk pertama kalinya ke sini. Rencananya akan menghabiskan waktu di Georgetown dengan keliling menikmati mural art dan wisata kuliner.

Setelah ambil bagasi, kami menuju ke luar dan pertama kalinya memesan Uber dengan Uber XL tentunya karena bawaan bagasi kami yang cukup banyak dan besar. Kami menginap di Maritime Suites.

Ayo, yang mau pakai Airbnb for the first time, bisa gunakan referral code aku:

http://www.airbnb.com/c/nnatalia34

Pengalaman berikutnya dengan Uber, it’s really simple. Tinggal pilih pick up point di depan Starbucks Maritime Suites, tanpa menunggu lama driver Uber akan tiba tanpa banyak tanya. Mereka bahkan nggak chat menanyakan posisi, pakai baju warna apa, mohon ditunggu, dan sebagainya. Tiba-tiba sudah datang aja. Hehe.. Beberapa kali sih memang sempat ada yang chat juga. Overall lancar!

Kalau naik Uber itu bisa ngobrol dan sharing dengan drivernya. Banyak yang cerita mulai dari seputar Penang, cerita orangtua dari Indonesia, keturunan Chinese tapi nggak bisa bicara Mandarin, dan ini itu.

Back to Maritime Suites. Tempatnya oke, apartmentnya luas, nyaman, hanya saja kekurangannya bakal rada berisik malam hari karena di bawah itu resto dan penuh dengan musik di malam hari. Mungkin karena stay di lantai 4 sehingga musiknya masih kedengaran. Kalau lantai atas bakalan lebih enak kali yaa..

Itinerary kami pertama adalah mengunjungi mural art. Penang is very famous for it’s mural art.

baisikal.jpg

Saya nak duduk basikal juga, awak maju sikit lah

Selain itu kami ke Goddess of Mercy Temple keren karena banyak burung beterbangan, jadinya berasa dramatis, Chew Jetty yang tidak terlalu luas keunikannya pada rumah-rumah penduduknya, dan Avatar Secret Garden. Sayang sekali untuk Avatar Secret Garden belum terlalu gelap jadi menunggu cukup lama sampai lampunya menyala. Datanglah after dark ke sini.

avatar.jpg

Tuh langitnya masih terang jadi kurang kontras dengan lampunya

Wisata kuliner di New Lane Hawker Center ternyata tempatnya tidak seluas yang saya bayangkan tapi cukup ramai dengan foodstall dengan makanan khas Malaysia dan Asia Tenggara sekitarnya.

Hari ke-2

23 Desember 2017. Makan asal laksa Air Itam, famous Theochew Chendul (yang antriannya panjang banget di pinggir jalan tapi cepat kok. Dan soal rasa sih biasa saja ternyata haha), dan mengunjungi Kek Lok Si Temple sebelum menuju ke Ferry menyeberang dan melanjutkan ke Kuala Lumpur naik ETS. Nah, hari ini kami keliling naik UberXL dengan sistem seharian pakai fare. Jadi nggak perlu geret-geret koper naik turun setiap tempat.

 

charkwetiau

Yang paling enak si Char Kwetiaunya sihhh

 

Kalau berangkatnya pakai pesawat, maka pulangnya kami ingin mencoba naik kereta haha.. Sekitar 4 juam dari Butterworth Station. Caranya pertama menyeberang dulu naik Ferry dari Penang Islandnya ke Butterworth. Sekitar 15 menitan kok. Dari Butterworth nanti kita akan naik shuttle bus ke Butterworth Station. Dari sana tanyalah orang di mana menunggu kereta untuk naik ETS. Sebelumnya kami sudah beli online tiket keretanya. Jadi begitu sampai tinggal duduk cantik menunggu jadwal kereta tiba.

ferry

Kalau dari Penang Island ke Butterworth, naik ferry gratis lho!

 

 

Hari semakin sore dan akhirnya jadwal keretapun tiba. Kami berangkat sekitar Pk.18.00 dan sampai di KL Sentral sekitar Pk.22.00. Lagi-lagi mau naik Uber, tapi ada kendala gara-gara pas dibuka lho kok nggak muncul Uber XL. Kalau Uber biasa tidak muat menanggung beban 4 koper gede kami. Akhirnya naik taksi van. Caranya naik taksi di pangkalan taksi sini cukup mudah. Datangi loket taksi dan nanti bilang mau ke mana. Kamu akan diminta membayar di loket. Jadi tidak perlu bayar lagi ke sopirnya. Nggak usah takut diketok atau argo kuda dehhh..

Oh ya terkait Uber itu, ternyata kedodolan kami, mesti diklik-klik dulu moda transportnya baru deh muncul Uber XL. Ceritanya ke-hidden gitu. Abisnya sihh ke-hidden. Fyuuhh.. Dasar.

Di KL, kami menginap di Regalia Suites yang juga cukup mudah dicapai sepertinya, karena lagi-lagi driver Uber tidak ada yang banyak tanya ini itu, tinggal ikutin GPS dan enaknya di sini sudah ada drop off dan pick up area yang jelas. Banyak lho wisatawan yang menginap di sini. Beberapa kali bertemu wisatawan. Oh ya, di bawah juga ada mesin isi ulang air haha.. Biar lebih murah lumayan sih 20 sen untuk 1 liter. Ketagihan isi ulang air deh. Lumayan berhemat sedikit lahh wkwkwk..

Ok kembali ke itinerary.

Hari ke-3

24 Desember 2017. Pagi-pagi sudah menuju Berjaya Times Square Hotel West Wing di mana kami akan naik mini van menuju Colmar Tropicale. Sebelum ke sini, sebaiknya kalian beli online dulu tiketnya biar nggak kehabisan. Apalagi di hari libur pasti ramai. Kalau untuk detailnya bisa langsung ke web Colmar Tropicale. Nggak usah nginep kalau ke sini. Malahan nggak usah lama-lama haha.. Soalnya tempatnya lebih sempit dari dugaanku. Jadi nggak bakal perlu berlama-lama deh di sini. Oh ya, tiketnya sudah include Japanese Village yang juga biasa saja. Sayang deh tempatnya kayak nggak terawat gitu ckckck..

Sorenya balik ke Berjaya Times Square lagi, jadi makan malam di mallnya. Rameee benerrr.. Mungkin karena lagi libur Natal dan Tahun Baru.

Karena masih ada waktu menjelang malam, mampir dulu ke Twin Tower ahahah.. Ehh tahu-tahu malamnya hujan deh. Kalau tahu bakalan hujan, mendingan buru-buru balik. Karena hujan, nggak dapat Uber maupun Grab. Jadinya naik taksi dan farenya cukup tinggi lho.

colmar.jpg

The famous Colmar Tropicale

 

Hari ke-4

25 Desember 2017. Agenda hari ini adalah ke Sultan Abdul Samad Building, Central Market, Kasturi Walk, Chinatown, dan seterusnya. FYI beli oleh-oleh di Central Market lebih mahal dibanding minimarket-minimarket di pinggir jalan. Kecuali kalau ada paketan diskon kayak coklat Berryl’s yang kita dapat memang lebih murah.

fish

Nih contohnya di Central Market 10RM, di minimarket 7,5RM.

Karena tangan sudah dihiasi jinjingan oleh-oleh, maka kita balik dulu ke apartment untuk beristirahat sejenak sebelum kembali jalan-jalan dan dinner di Alor.

Ehh ternyata oh ternyata cuaca mendung huhu.. Jadinya kami ke Pavillion dulu. Dekorasi Natalnya keren deh. Sambil menunggu cuaca mendingan, kami keliling mall. Namun sayangnya hujan terus turun. Jadinya batal dinner di Alor. Huhu..

Hari ke-5

Demikianlah perjalanan kami dan hari ini kembali dari KL-CGK (Promo KLM).

Let’s watch the video:

 

 

Back to Thailand


I’m flying to Thailand again! Yay setelah memenangkan voucher dari TheTravelIntern yang saya gunakan untuk memilih flight ke Bangkok PP.

aa.png

Biaya Penginapan dalam IDR: 1.346.691 
Nice Palace Hostel: 260.882
Coconut Budget and Boutique: 322.163
The Richy Place: 763.646

(Semua biaya merupakan biaya per orang, adapun untuk biaya penginapan, taksi, dll sudah dibagi biayanya per orang)

Perjalanan ini akan berbeda dari perjalanan ke Thailand kemarin-kemarin karena memiliki tempat-tempat tujuan berbeda.

Day 1

Sesampainya di DMK dan keluar imigrasi, kami menuju ke arrival gate dan mencari staff Klook untuk mengambil simcard. Bagi yang mau belanja-belanja simcard, voucher, paket tour, dll bisa daftar di Klook.com dengan referral code berikut ini.

Berhubung hari sudah malam, kami langsung check in di Nice Palace Hotel dekat BTS Saphan Khwai Station. Dari Bandara Don Muang (DMK) carilah shuttle bus di arrival gate 6 ada penunjuknya. Bus akan tiba setiap 30 menit. Rutenya nanti dari DMK melewati area Chatuchak baru ke Saphan Khwai. Rute A2 : DMK- Mochit BTS/MRT (Chatuchak)-Saphan Kwai BTS-Ari BTS- Sanam Pao BTS- Victory Monument- DMK

Biaya dalam THB: 111
Bus: 30
Tuk Tuk: 20
Seven Eleven: 51
Tip: 10

 

Day 2

Perjalanan menuju Cha Am dan Huahin dengan minivan. Tempat ini populer karena ada Santorini Park, Pansook, Plearn Wan, Camel Republic, Venezia, Swiss Sheep Farm, dan lainnya. Kami memutuskan menginap agar bisa puas eksplorasi mengingat ada tempat-tempat di sekitar sana yang juga menarik untuk dikunjungi.

Dari hasil googling banyak yang mengatakan kalau mau ke Cha Am dan Huahin harus dari Terminal Sai Tai Mai. Namun setelah menggali info lebih dalam, kami menemukan info bahwa minivan juga ada di Mochit 2 (Baca: Mochit Song). Jadi dari hotel kami langsung naik taksi ke Mochit 2.

Gampang kah berbahasa Inggris di Thailand?
Tidak mudah, karena dari pengalaman kami kebanyakan orang tidak fasih berbahasa Inggris bahkan huruf romawi. Jadi kalau mau bepergian dengan taksi, tuktuk, dll siapkan alamat lengkap dengan huruf Thai ya biar lebih mudah! Atau kalau ada Google Maps bisa langsung pakai Google Maps dehh..

Sampai di dalam bus terminal, cari mini van ke ชะอำ Cha Am (Bilang saja ke drivernya turun di Santorini Park) ongkos 180 THB. How to find the minibus? Saat tiba di terminal, minivan ke sana ada di belakang, jadi bukan nungguin di dalam gedung terminalnya ya. Jalan saja ke tempat yang banyak pangkalan van, lalu tanya satu per satu mana yang ke Cha Am/Huahin. Nanti pasti akan ditunjukin orang-orang di situ.

ticket.jpg

Dari jauh sudah kelihatan bianglala di Santorini Park yang menjulang tinggi. Kurang dari 3 jam perjalanan (mampir sebentar di pom bensin, persis seperti perjalanan Cipaganti ke Bandugn ya), kami tiba di depan Santorini. Jalannya yang lebar dan lempeng seperti jalan tol membuat kami harus berhati-hati menyeberang.

Nah, dari Santorini Park, kami sudah sewa mobil taksi dari Rama2 Travel yang recommended menurut saya. Selain harganya bersaing (2000 THB bisa keliling sampai puas tanpa di charge extra hour), admin Whatsappnya pun fast respond dan lancar berbahasa Inggris jadinya enak komunikasi ini itu. Melanjutkan perjalanan ke 1000 Sook Farm (พันธ์สุข ฟู้ด แอนด์ ฟาร์ม) tempat makan siang dan foto-foto. Cocok untuk yang bawa anak kecil penggemar kuda poni atau domba, Tham Khao Luang Cave (ถ้ำเขาหลวง) ada patung Budha di dalam goa dan cahaya yang sangat cantik menyinari ke dalam goa. Di sini ada beberapa monyet yang berada di sepanjang jalan luar. Untuk menuju cave, kita akan naik mobil transportasi yang sudah disediakan dengan biaya 30THB PP. Wat Kamphaeng Laeng (วัดกำแพงแลง) hanya memakan waktu 10-15 menit saja, Huay Mongkol (หลวงพ่อทวดวัดห้วยมงคล) layaknya Big Buddha Statuenya Hong Kong, dan time travel di Plearnwan (เพลินวาน).

Tips: Saat ke Pansook Farm, kami makan dulu di restaurant luar sebelum masuk. Dikasih tiket masuk ke dalam Farmnya gratis. Lumayan kan.. Oh ya, di belakang Huay Mongkol ada jalanan yang belum diaspal karena masih pembangunan. Di sana ada patung Budha. Jika memang ingin menikmati ekstra view selain dari patung biksu, bisa jalan kaki ke belakang sini. Lalu di Plearnwan datanglah saat sunset untuk menikmati blue hour saat langit mulai biru menuju gelap. Lampu-lampu pun menyala dan terasa suasana semakin semarak.

Berkeliling seharian sampai malam, perjalanan ditutup dengan makan malam di Huahin Night Market. Layaknya pasar malam, ada banyak jajanan, tempat makanan, dan suvenir di sini. Setelah seharian kepanasan dan kelelahan, kami beristirahat dengan nyaman di Coconut Budget and Boutique Hotel. Karena masih baru, tempatnya nyaman dan bersih. Dekorasi dan interiornya pun modern. Lokasinya strategis karena dekat dari Pasar Malam maupun Terminal Van. Jadi besok paginya kami bisa berjalan 500meter ke terminal untuk kembali ke Bangkok.

Biaya dalam THB: 1.729
Taxi: 50
Mini Van: 180
Makan: 225
Minum: 45
Santorini Park Entrance: 150
Transport Tham Khao Luang Cave: 30
Seven Eleven: 29
Jajan Bakso Bakar Huahin Night Market: 20
Car Rent: 1000

 

Day 3

Kami turun di dekat Mochit 2 dan menuju ke The Richy Place Pratunam dengan taksi. Tentunya taksi yang pakai argometer ya. Jangan lupa untuk memastikan taksi yang dipilih menggunakan meter. Dari hasil testing kami sih, harganya lebih murah dibanding fare di Grab dan Uber.

Welcome to Pratunam Market. Suasana jalan sangat hiruk pikuk. The Richy Place ada di tengah-tengah pasar situ. Nah, sempat acara drama di sana gara-gara sudah overbooked. Receptionist memindahkan kami ke Cloud 9 di gang berbeda. Dan.. yang namanya perjalanan tak selalu mulus ya. Selama di Cloud 9 kami sangat terganggu dan tidak nyaman karena tidak ada sound proof dan suara berisik dari kamar tetangga di koridor. Selama 2 malam, mereka packing setiap tengah malam sampai subuh. Bayangin nih mata panda makin menjadi-jadi. Receptionist in charge pun nggak bisa membantu dan malah terkesan jutek nggak mau peduli. Ternyata setelah saya baca-baca reviewnya, beberapa guest sempat mengeluhkan si receptionist cowok ini juga.

Back to the itinerary, kami ke Platinum untuk makan siang dan keliling sebentar. Di Platinum gedung 2 lantai 5 sebelum food court ada toko Moshi-Moshi menjual barang mulai dari 20THB. Tadinya saya mau ke Bear Store di Pinklao karena harganya serba 20THB. Tapi karena sudah belanja di sini, jadinya Bear Store dibatalkan deh.

Next, kami ke Airplane Graveyard. Saya memang suka iseng mencari tempat unik dan antimainstream dari kalangan turis. Saat googling, saya menemukan spot menarik sebagai fansnya serial Lost, rasanya recommended sekali foto-foto dan menjelajah rongsokan pesawat terbang ini. Ini bukan tempat wisata untuk umum melainkan sebuah area yang dihuni dan dijaga oleh keluarga yang tinggal di sana. Mereka mengenakan biaya masuk ke area itu. Waktu ke sana dapat harga 200THB/orang. Dari hasil googling memang harganya minimal segitu. Malah kalau dari blog orang ada yang dikenakan 300-600THB. Tergantung hoki kali yaaaa..

Berikutnya sudah tak jauh lagi dari sini, kami ke Chocolate Ville yang buka sore-malam. Dari sini, kembali naik taksi dengan argometer tentunya. Menjelang sunset suasana semakin indah dengan ditemani langit berwarna-warni.

choclate ville

Nah, kembali ke perjalanan pulangnya lagi-lagi dengan taksi dan menggunakan argometer + bayar tol lebih murah daripada patokan yang pernah saya lihat dari blog Anakjajan.

Malah sebenarnya 300THB ini bisa dikurangi lagi kalau seandainya kami tidak kena macet. Hehe.. Macetnya lumayan panjang lho zzz.. Sampai-sampai rasanya pengen sprint lari biar lebih cepat sampai.

Biaya dalam THB: 1.534
Mini Van: 170
Taksi: 50
Makan di Platinum: 50
Moshi-Moshi: 350
Taksi dari Platinum ke Airplane Graveyard: 60
Airplane Graveyard: 200
Taksi to Chocolate Ville: 45
Makan di Chocolate Ville: 523
Taksi kembali: 150
Seven Eleven Pond’s BB: 64

 

 

Day 4

Bisa dibilang acara jalan-jalan berakhir di hari ke-4 ini karena besok pagi sudah harus ke bandara lagi.

Acara hari ini kalap belanja di Pratunam Market, mengunjungi Bangkok Art and Cultural Center buat foto-foto kece, dan shopping camilan di Big C. Pilihannya sih nggak sebanyak pas belanja cantik di Lotte Mart gitu sih, tapi lumayan lah sambil mengisi waktu.

Pas di BACC banyak sekali pameran foto/lukisan/dll terkait mendiang Raja. Lumayan lho ada beberapa lantai yang bisa kalian kelilingi di sini. Gratis masuk ke sini!

bacc.jpg

Biaya dalam THB: 2.529
Celana: 450
Baju Oleh-Oleh: 160
Seven Eleven: 207
Kosmetik: 58
Baju Pratunam Grosiran 3 Pcs: 240
Baju Oleh-Oleh Thai 3Pcs: 300
Dua Kaos: 210
Totebag: 120
Makan: 80
Tuk-Tuk keliling: 160
Big C: 545
Seven Eleven: 99

 

Day 5

Dari pagi, kami sudah menuju airport. Kembali dengan taksi argometer dengan baiya total 250 THB sudah include tol 70 THB.

Biaya dalam THB: 212
Seven Eleven: 87
Taksi: 125
Total pengeluaran dalam IDR: 1.346.691
Total pengeluaran dalam THB: 6.115 (2.519.380 IDR)

Do fun at Dufan


Dufan! Do the Fun!

Setelah sempat bermimpi (even literally mimpi) ke Dufan, akhirnya kesampaian jugaaa..

Sepertinya terakhir aku ke Dunia Fantasi ini sudah sejak zaman masih duduk di bangku sekolah. Sudah lama sekaliii.. I was not a big fan of amusement park until lately. Tapi sekarang malah pengen ke amusement park, entah kenapa kayaknya balik ke masa anak-anak 😀 Entah masa kecil kurang bahagia atau telat umur dalam menikmati serangkaian mainan. Atau mungkin stress makin tinggi seiring bertambah usia. Dulu pas ke Disneyland, Bungee Jumping, Zip Lining ehh ternyasanya seru. Sekarang jadi keterusan pengen banget ke Dufan.

Berhubung kemarin bulan puasa dan biasanya Dufan suka bikin promo, jadi akhirnya aku memutuskan solo trip to Dufan. Haha.. Latihan solo travel biar terbiasa 😀

Sempat pakai acara dilemma apakah mau pakai promo voucher email (150.000 untuk weekend/1x masuk) atau sekalian anual pass (295.000 untuk setahun masuk). Dan setelah mencapai Dufan, tekadku bulat untuk mengambil annual pass. Soalnya kata temanku 295.000 itu tergolong murah lho! Kupikir-pikir, dalan setahun nanti pasti bakal pengen ke Dufan lagi. Jadi nggak rugilah bikin annual pass.

Alhasil Hari Sabtu lalu berangkatlah aku ke Ancol dengan naik busway alias bus Trans Jakarta. Jalurnya transit di Harmoni, Pal Putih, baru Ancol. Untungnya 2x transit ternyata dua-duanya tidak terlalu ramai. Bisa langsung naik bus tanpa menunggu terlalu lama. Dari Halte Indosiar, dalam waktu 1 jam sudah tiba di Ancol.

HTM Ancol 25.000/orang

Annual Pass 295.000/orang

Setelah membayar di loket, masuk ke Dufan dan menuju gedung Balaikota untuk scan sidik jari dan foto. Dalam waktu 5 menit, kartu Annual Pass sudah di tangan!

Dibuka dengan Turangga Angga dan Bianglala, buat pemanasannya cobain naik kuda-kudaan dan bianglala yang slow dulu.

20170617_153710-01

Setelah itu lanjut Kora-Kora deh. Waaahh.. sensasi pada saat meluncur ke bawah serasa jantung berdegup kencang. Selesai Kora-Kora lanjut wahana seru lain yaitu Hysteria dan Halilintar. Terakhir ke Dufan naik Halilintar dulu kayak nggak ada perasaan apa-apa, giliran sekarang berasa heboh sendiri teriak-teriak haha.. Pertama nyobain Hysteria ternyata cuma sekali naik kenceng gitu ya.. Kirain beberapa kali bakal naik turun. Ternyata sekali saja. Jadi tidak terlalu ngeri.

Jujur saja aku orangnya cemen. Pengecut lho. Jadi pas datang, udah yakin nggak akan naik Tornado dan Kicir-Kicir. Oh ya.. Panic House juga makasih dehm. Cukup sudah ditakut-takuti pas Halloween Horror Nights dulu. Kebetulan Tornado memang sedang dalam perawatan bersama dengan beberapa atraksi mainan lainnya. Kenapa takut? Karena posisi badan dibalikkan menghadap ke bumi serasa mau jatuh dan diulang berkali-kali selama bermenit-menit gitu rasanya takut deh.

Kembali bahas ke wahana selanjutnya adalah Ice Age yang seru banget. One of my favourites! Jadi kita naik perahu di atas air dengan suasana dingin. Lalu tiba-tiba kita akan diajak meluncur ke bawah dan tentunya akan kecipratan air tapi tidak terlalu ekstrim. Cocok untuk yang cemen sepertiku ini 😀

20170617_140351-01-01

Jalan-jalan, kutemukanlah Istana Boneka dan Perang Bintang. Santai dulu sambil menikmati sekeliling yang gelap.

Hari semakin sore saat aku naik Ontang-Anting, Poci Poci, dan Rajawali. Karena waktu makin terbatas jadi aku tidak mau buang-buang waktu. Beberapa wahana anak seperti Burung Tempur dan Gajah Bledug kulewati. Tadinya ingin mencoba Pontang-Pontang dan Ombang-Ombang tapi sedang dalam perawatan juga.

20170617_125151-01-01

Favoritku lainnya adalah Alap-Alap (sampai naik 2x) mumpung antriannya sepi! Karena roller costernya tidak seekstrim Halilintar. Jadi enjoyable! Selain ituArung Jeram dan Niagara-Gara juga seru. Niagara-Gara sukses membuatku basah kuyup. Tapi tenang karena sudah siap baju ganti!

Sekedar intermezzo mas yang jaga di Arung Jeram beberapa kali bercanda dan ngejayus “Hati-hati licin jangan sampai jatuh dan tak bisa bangkit kembali.” atau “Bagi rombongan bisa dibagi dua perahu saja tak apa-apa terpisah asal bukan hati kalian yang terpisahkan.” Sukses mendapat sorakan pengunjung. Lol.

Terakhir ke Treasureland dulu sebelum akhirnya dijemput 😀

Overall seru walaupun capek dan sepatu basah kuyup. Next time mau cobain beberapa wahana yang belum kesampaian dan yang sedang dalam perawatan. Syukur-syukur kalau tiba-tiba berani naik Tornado dan Kicir-Kicir. Entah kapan waktu itu tiba.. Haha..