Weekend Gateaway Lembang Bandung


Setelah minggu lalu menyempatkan diri ke Hutan Mangrove di PIK, maka kali ini kita jalan ke Lembang Bandung ya!

Dimulai dari ajakan seseorang yang sedang membutuhkan refreshing, escape from her daily routine and problem, alhasil rencana ini agak dadakan juga sih. Tapi karena Jakarta-Lembang tidak jauh, jadi semua bisa diatur dalam waktu singkat.

Tujuan utama kita adalah ke The Lodge Maribaya. Dan perjalanan dimulai!

Hari Sabtu kemarin, jam 05.30 kita berangkat dari Jakarta dan setelah melewati hujan – nggak – hujan -nggak, di sepanjang perjalanan, kita tiba di The Lodge Maribaya dengan selamat 🙂

Kalau kalian aktif di Instagram, pasti tahu tempat kekinian ini. Ada 3 wahana foto yang cukup sering tampil di IG. Mulai dari sky tree/bamboo tree, mountain swing, dan zip bike. Ketiganya memiliki tarif 15.000, 20.000, dan 20.000. Sedangkan untuk tiket masuknya sendiri adalah 25.000/orang (include soft drink) dan biaya parkir 10.000/mobil. Selain itu ada juga penginapan camping ground di sana.

Pas kemarin kami ke sini, tiba sekitar jam 10 lewat (dari info, bukanya jam 10.00-17.00) ternyata kondisi sudah sangat ramai. Wah, antrian di tiap wahana tampak sudah membludak. Sedangkan cuaca mulai mendung lagi. Wahana pertama kami adalah sky tree dekat pintu masuk. Setelah menunggu selama 2 jam barulah bisa naik sky tree dan foto-foto. Agak lama ya? Karena kondisi ramai dan juga sempat terhenti gara-gara hujan. Saran bagi teman-teman yang mau ke sana, mending lebih pagi kali ya. Lalu utamakan wahana yang emmang paling kamu incar buat foto-foto. Soalnya pengalaman sih kemarin cuma bisa naik sky tree dan mountain swing. Karena kehabisan waktu 😦

Image may contain: 1 person, tree, sky, outdoor and nature

Image may contain: 1 person, mountain, sky, outdoor and nature

Petugas di sana juga akan membantu memantau queue time, jadi kalau sekiranya antrian di wahana sudah overload, penjualan tiket dipending sementara sampai antrian mulai menipis. Tujuannya baik supaya jangan sampai hari sudah sore, antrian di wahana sudah panjang, sedangkan sudah waktu operasional ditutup. Cukup bertanggung jawab sih.

Di sini ada fotografer pro yang siap mengabadikan moment. Jadi silakan bergaya di atas wahana. Nanti fotonya bisa dibeli dengan harga 10.000/foto soft copy di loket dekat pintu keluar parkiran. Bagi yang mau mengoleksi foto yang berkualitas tinggi disarankan membawa uang lebih ya, kalau satu wahana saja bisa dapat 3-5 foto yang bagus, bagaimana dengan yang naik semua wahana? Tentu harus menyiapkan kocek 🙂

Di sana juga ada beberapa pilihan menu makanan untuk mengisi perut. Tapi karena kami sudah sibuk mengutamakan antrian wahana, jadi kami tidak fokus untuk makan. Setelah jam 15.30 kami pun menuju ke Lereng Anteng. Dengan basah-basahan dan becek, pergi ke Lereng Anteng melewati sedikit kemacetan.

lereng.jpg

Makanannya dingin

Lereng Anteng juga merupakan salah satu tempat kekinian. Saat ke sana kondisi tidak terlalu ramai. Menu makanan utama kurleb sekitar 25.000-35.000 Ditemani hujan gerimis, saya menyantap ayam goreng yang dingin dan nasi putih dingin. Jujur kecewa sih dengan rasa  makanannya yang dingin. Padahal kondisi sedang gerimis dan tubuh ini membutuhkan asupan kehangatan. Kuah bakso cenderung hangat saja tidak panas dan rasanya wew tawar ckck.. jauh dari harapan sih. Padahal waktu itu makannya sudah dalam kondisi perut sangat lapar lho!

Nah, sekitar Pk.19.00 kita menuju penginapan Villatel Salse (Salse artinya santai). Tempat ini jauh dari jalan besar. Jalannya cenderung masuk gang / jalan sempit yang berundahk-undak agak curam dan rusak 😦 Tapi karena review positif dan suasana alam, jadi kami memilih di sini. Tempatnya juga banyak spot foto. Untuk harga kemarin itu kurleb sekitar 750.000/ 3orang sekamar (pakai 1 extra bed). Amenitiesnya lengkap, ruangannya juga spacious, dan ada teras untuk bersantai. Walaupun nggak ada AC, tapi cuaca sudah dingin.

vil.jpg

Bangunannya unik

Besok paginya, kami meng-eksplor Villatel Salse. Breakfast di Warung Salse melewati tanajkan tangga yang cukup banyak. Namun, lumayan sepanjang jalan disuguhi pepohonan dan spot foto. Overall nuansa rileksnya terwujud.

Hari Minggu saatnya kembali ke Jakarta. Mampir di Lawangwangi dan Warkop Modjok dulu. Lagi-lagi tempat kekinian yang belum pernah kami datangi. Lawangwangi terkenal dengan spot foto jembatannya sedangkan Warkop Modjok dengan dekor unik yang retro.

lawang2.jpg

Platter dan Spaghetti

Untuk makanannya di Lawangwangi cukup enak. Pilihannya tidak banyak memang tapi untuk mengisi perut lumayanlah.

Baru mulai foto-foto di jembatannya, eh segerombolan keluarga besar terdiri beberapa emak-bapak dan banyak anak-anak emnerobos dengan tidak sopannya. Bukannya antre lihat masih ada orang lagi foto-foto. Malah nerobos gitu. Ckck.. Bingung dengan orang-orang yang suka nyerobot gitu lho. Oh ya adegan di rest area, antrean di toilet juga diserobot 2 ibu-ibu nyelonong sampai diteriakin orang di belakang disuruh antre. Lalu pas di Mountain Swing, modusnya 1 orang beli tiket, sekelompok teman-temannya masuk antrian. Nanti teman yang beliin tiket langsung masuk memotong jalur membawakan tiket-tiket mereka. Fyuuhh..

Back to topic, berikutnya adalah Warkop Modjok. Ternyata tempatnya dekat dengan rumah-rumah perumahan gitu. Tempatnya instagrammable. Hanya saja lagi-lagi makanannya hadeuh.. Ntah salah pilih atau memang makanannya nggak sesuai harapan. Pesan siomay cantik 18.000 dengan anggapan akan hadir seporsi siomay Bandung ehh yang datang cuma 4 butir siomay goreng. Laba-labanya juga kurang sesuai ekspektasi secara rasa. Wkwkk.. Untuk minumannya okelah. Di saat panas, pesanan Thai Iced Tea cukup menawarkan rasa haus.

warkop.jpg

Ternyata bukanlah siomay Bandung pakai kuah kacang

Short closing. Sekian review perjalanan kali ini 🙂 For more photos, check my IG @natbynatalia ya!

Farm House Susu Lembang dan Taman Hutan Rakyat Djuanda


Farm House Susu Lembang dan Taman Hutan Rakyat Djuanda.

Dua tempat wisata kekinian ini saya kunjungi saat weekend. Dikarenakan saat tiba di Bandung sudah siang (gara-gara Daytrans yang tidak beroperasi mendadak di hari itu, dan terpaksa mendadak naik Cipaganti di Makaliwe Rp.120.000,-). Sampai di Cipaganti Pasteur (sebelum BTC), pertama-tama makan siang dahulu, baru melanjutkan ke Farm House Susu Lembang. Lokasinya sendiri tidak terlalu jauh. Dengan ongkos Rp.20.000,- kita bisa masuk dan menikmati pemandangan sambil menukarkan karcis masuk dengan segelas susu atau sosis bakar.

Kebetulan saat di sana hujan deras jadi tidak banyak yang bisa dilakukan selain berfoto seadanya di bawah tetesan air hujan.

20160401_161815_resized.jpg

Inilah rumah Hobbitnya 🙂

 

Sebelum ke penginapan, mampir dulu di Ciwalk.

Tempat menginap adalah di Airy Rooms (lokasinya di Lotus Hotel Tubagus Ismail VIII). Lokasi masuk dalam jalan kecil perumahan. Jika sudah di sana ikuti saja petunjuk ke Lotus Hotel. (Biaya Rp.290.000,-/malam). Ruangannya cukup nyaman. Tidak terlalu luas, tapi tidak terlalu sempit jika hanya membawa ransel seperti saya. Ada AC, minuman mineral, teapot untuk menyeduh teh dan kopi, serta ada perlengkapan mandi lengkap.

Di hari berikutnya, perjalanan ke Taman Hutan Raya dan Tebing Keraton. Menuju Dago Pakar, Anda akan menyusuri jalan menanjak yang sempit. Nampak banyak pesepeda mendaki menuju puncak. Pertama, menuju Tebing Keraton terlebih dahulu. Karcis masuk Rp.11.000,- Ingat! Jika sudah masuk, simpan karcis sebagai bukti, jadi nanti pas ke TaHuRa, tidak perlu bayar double.

Menuju Tebing Keraton, ada jalan panjang mendaki yang sempit. Jika tidak kuat dan tidak mau membuang waktu pilihlah opsi ojek yang akan menawarkan Anda ke sana. Setelah tawar menawar, diperolehlah harga nego Rp.25.000,-/PP.

1459648902912_resized.jpg

Tebing Keraton dikenal dengan nama Tebing Instagram karena banyak yang berfoto di spot tebing tersebut dan memposting di Instagram. Namun saat ke sana, di sana ternyata dipasang pagar pelindung. Jadi jangan ambil resiko ke luar pagar, apalagi yang takut ketinggian seperti saya. Hehe..

20160402_085247_resized.jpg

Setelah dari Tebing Keraton, baru deh turun ke TaHuRa. Kompleksnya sangat luas, mulai dari Cafe Hutan Pinus sampai yang terakhir Air Terjun Maribaya. Tapi karena cuaca dan waktu kurang pendukung, cuma menyempatkan ke Cafe Hutan Pinus, Goa Jepang, dan Goa Belanda saja. Goa Jepang dan Goa Belanja sangat gelap. Nyalakan flash light untuk melihat jalan ya!

1459649039173_resized.jpg

Siangnya Bandung kembali diguyur hujan. Kali ini lumayan deras, jadi setelah makan siang, mampir ke Museum Geologi dekat Gedung Sate (Rp.3.000,-) dan mampir beli oleh-oleh. Pk.16.00 kurang sudah berada di pol Day Trans Dipatiukur (dekat McD) Rp.75.000,- (karena ada diskon dari tiketux.com) untuk menuju ke Binus.

Ngebolang ke Dusun Bambu


Ngebolang ke Dusun Bambu

Liburan bosen ke mall? Maunya cari suasana yang hijau, kembali menikmati pemandangan alam. Nah, alasan itulah yang mendasari acara jalan-jalan ke Dusun Bambu di Lembang Bandung.
Setelah browsing-browsing tempat untuk camping, keputusan jatuh pada Dusun Bambu yang tergolong sudah menjadi tempat rekreasi. Jadi bukan camping ala alam liar ya. Ya camping-campingan lah istilahnya. Tidur di tenda yang sudah tersedia tanpa repot mikirin WC atau takut di hutan liar. Tapi masih dekat dengan alam.

Dusun Bambu sendiri sudah menjadi tempat rekreasi dan dibuka untuk umum tanpa harus menginap. Semenjak beberapa tahun terakhir ini ada tempat menginapnya juga. Ada Kampung Layung cottage yang harganya juga wah. Ada juga Eagle Camp di ujung belakang area yang memasang patokan 1.45jt-an include breakfast, welcome drink, snack, dan bisa request BBQ juga, tapi kalau bahan makanan mau disiapin maka nambah 1 juta untuk 4 orang. Jadi mendingan bawa sendiri, gratis.

Cara untuk mencapai ke lokasi jika dari Jakarta bisa lewat Tol Pasteur. Patokan ke Villa Bunga, arah tol Pasteur >> lampu lalu lintas kedua belok kiri >> ketemu arah jln.Setia budi >> Di Jln.Setia Budi Ketemu dengan Terminal Ledeng di kanan Anda >> Belok kiri persis di depan Terminal Ledeng >> Jln.Sersan Bajuri atau Arah kampung gajah-kampung daun-sapulidi-The peak >> Ketemu Jln.Kol.Masturi >> Lewati Universitas Advent dan seterusnya. Nanti dari Curug Cimahi sudah tidak terlalu jauh lagi. Lihat di arah kanan Anda akan ada papan petunjuk masuk ke Dusun Bambu. Masuk ke gapura dengan tulisan Komando tersebut. Tiket masuk akan dikenakan Rp15.000,- per orang (anak kurang dari 3 tahun gratis) dan mobil Rp10.000,-. Kalau menginap maka FREE.

Tendanya cukup luas (konon bisa up to 6 persons). Tentunya extrabed nambah biaya lagi. Sekitar 200.000-an lah. Jangan lupa bawa jaket atau peralatan tidur lainnya jika tidak tahan dingin. Di tenda sendiri sudah ada kasur *yang keras T_T* selimut dan sleeping bag.

WC nya ada di dekat tenda. Turun sedikit, nyampe deh. Oh ya, antar tenda juga cukup privacy karena dibatasi pagar-pagar bambu.

Pemandangannya lumayan lah. Sambil jalan kaki olahraga, sambil foto-foto, tersedia juga makanan dan jajanan oleh-oleh.

Untuk lebih jelas gambarannya, ini foto-fotonya:

1

3  2