Pengalaman Mengurus Visa Jepang


Kali ini mau berbagi pengalaman saat membuat visa Jepang minggu lalu.

Untuk pengguna E-Paspor memang sudah ada kebijakan bebas visa dengan melakukan registrasi. Namun, pemilik paspor biasa seperti saya masih tetap harus mengurus pengajuan visa seperti biasa. Saya akan berangkat 7 minggu lagi.

Berhubung lokasi embassy Jepang berada di dekat Bundaran HI / Plaza Indonesia. Pasti yang pernah wara-wiri di daerah sana, bisa menemukan gedung dubes ini dengan mudah.

Saya pergi ke embassy naik busway. Pilih jurusan yang ke Blok M. Berhubung Halte Bundaran HI sudah tidak ada, maka kita bisa turun di Sarinah atau Tosari ICBC. Menurut pengalaman jalan kaki saya, rasanya dari Halte Sarinah lebih dekat daripada dari Tosari ICBC. Cukup berjalan lewat trotoar, tanpa melewati Bundaran HI. Atau kalau capek/mengejar waktu, kita bisa saja turun di Tosari ICBC dan lanjut Kopaja 19 ke arah embassy.

Berikut jadwal operasional untuk pengurusan visa:
Hari Senin – Jumat, (kecuali pada hari libur nasional dan libur Kedutaan)
Pengajuan Permohonan Visa : pk. 08:30 – 12:00
Pengambilan Paspor : pk. 13:30 – 15:00

Hal pertama adalah tukarkan KTP dengan visitor’s card, lalu lewati pintu pertama, kita akan disambut scanning security. Melewati pintu selanjutnya, kita sudah bisa melihat pintu kaca menuju ruang tunggu pengajuan Visa Jepang. Masuk saja ke pintu tersebut dan ambil nomor antrian di mesin A untuk pengurusan visa.

Di dalam ruangan, ada 5 loket, untuk pengurusan visa pribadi ada 2 loket. Yakni loket nomor 2 dan 3. Setelah ambil nomor antrian, silakan duduk dan menunggu tiba giliran.

Saya sendiri tiba sekitar Pk.08.40. Nomor antrian 23. Tidak terlalu lama saya menunggu, akhirnya giliran saya tiba. Memang prosesnya cepat sekali. Saya diminta menyerahkan dokumen (tanpa perlu map, dkk) Cukup dokumen yang sudah dijepit pakai penjepit kertas saja. Urutannya harus sesuai petunjuk di web ya! Oh ya, cek alamat di KTP kamu dan pastikan wilayah Yuridikasinya sesuai ya. Jangan sampai domisili Bali tapi pengajuan di Jakarta.

Dokumen-dokumen yang perlu dilengkapi dalam mengajukan permohonan visa:

  1. Paspor.
  2. Formulir permohonan visa dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram.
  3. Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili)
  4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)
  5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
  6. Jadwal Perjalanan (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
  7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu)
  8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
    Bila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya
    * Fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan

Proses yang memakan waktu adalah persiapan semua dokumen di atas. Hehe.. Agak rempong karena saya harus mengurus 4 orang anggota keluarga. Mulai dari fotokopi, menyusun itinerary, print tiket dan bukti booking hotel, sampai mengisi form, dan pengajuan visa mereka. Oh ya, kalau mau mengajukan visa untuk orang lain, bisa lho diwakilkan asalkan membawa dokumen bukti hubungan keluarga seperti fotokopi KK atau surat lahir.

Berikut dokumen dari saya:

  1. Paspor masa berlaku min. 6 bulan
  2. Formulir visa (download dari web) yang rada membingungkan karena sempat baca-baca untuk pengisian “none” jika tidak ada jawaban. Saya sendiri menggunakan “none” pada pertanyaan yang saya jawab tidak ada. Misalnya guarantor atau inviter. Sedangkan kalau nama saya surname dan nickname saya kasih strip saja. Sedangkan foto ukurannya 4.5 x 4.5 cm BG putih, wajah jelas, tempelkan di form.
  3. Fotokopi KTP maupun semua dokumennya dalam A4 biar rapi.
  4. Tidak ada
  5. Bukti pemesanan tiket Air Asia yang dibeli pas lagi ada promo. Berangkatnya ke Tokyo dan pulang dari Osaka. Harganya PP sekitar 5.1 juta.
  6. Jadwal perjalanan (itinerary mengikuti form yang dapat didownload dari web)> Itinerarynya simple saja, tuliskan mulai tanggal berangkat sampai kembali ke Indonesia ya. Saya sendiri berencana mengunjungi Tokyo, Osaka, Kyoto dalam waktu 1 minggu, itinerary sederhana saja misalnya ke tempat wisata umum: Harajuku, Shinjuku, Shibuya, Kawagoe (day trip), Disneyland, Gion, Osaka Castle, dll. Sertakan juga bookingan tempat menginap. Saya menginap menggunakan jasa Airbnb.
  7. Saya menyertakan fotocopy Akte Lahir dan Kartu Keluarga karena mewakili anggota keluarga saya yang lain. Rada deg-degan soalnya KK nya masih pakai KK daerah.
  8. Saya menyertakan fotokopi rekening tabungan cover dan mutasi rekening dari internet banking. Plus surat keterangan kerja supaya memperkuat.

Saat pergi ke dubes, saya juga membawa cadangan fotokopi surat-surat, pulpen, lem, buat jaga-jaga saja. Jadi jika ada yang kurang, bisa langsung diurus tanpa perlu bolak-balik datang lagi.

Ternyata di Hari-H, petugas memeriksa dokumen saya dengan sangat cepat. Tak sampai 5 menit sudah selesai. Padahal saya baru selesai mengisi form/bukti pengambilan paspor. Eh.. Bapak yang bertugas sudah selesai memeriksa kelengkapan dokumen. Tidak ada revisi. Hanya saja bukti tiket, itinerary, dan bookingan hotel dikembalikan ke saya. Sepertinya cukup 1 copyan saja karena mewakili 1 keluarga.

Sayapun bertanya apakah dokumennya sudah lengkap semua. Bapak yang bertugas menyatakan untuk sekarang sudah memenuhi tapi jika nanti dicek oleh bagian visanya dan mereka butuh dokumen tambahan maka mereka akan menelepon saya. Jika tidak ada telepon dalam waktu 4 hari kerja, silakan langsung datang lagi ya di jam pengambilan paspor dan bawa uang pas.

Sesuai dengan waktu 4 hari kerja, sayapun kembali ke sana pada jam 13.45. Sesampainya di sana sudah ramai sekali. Bahkan hanya ada beberapa kursi kosong. Antrian saya nomor 252. Sedangkan yang sedang dipanggil adalah nomor 185. Jadi saya duduk sambil menunggu selama 1 jam lebih. Akhirnya giliran saya tiba. Saya memberikan bukti pengambilan paspor dan tadaa.. visa sudah tertempel di paspor. Saya membayar dengan uang pas dan mendapat kuitansi pembayaran.

2015-08-11-21-27-07_deco_resized

Begitulah proses pengajuan visa ke Jepang versi saya!

Advertisements

9 thoughts on “Pengalaman Mengurus Visa Jepang

  1. mba,
    pada saat apply visa dan tempat tinggal menggunakan airbnb tidak masalah ya?
    karena di detik(dot)kom saya membaca jepang menganggap airbnb itu ilegal.

    trims sebelumnya.

  2. Pagi mba, salam kenal saya firdaus

    Mau nanya mba tapi berlainan dengan judul hehehe
    Saya pingin nanya kalo ke eropa gimana ya ? Apakah bukti booking dari airbnb bisa di jadikan persyaratan buat visa schengen

    Makasih

  3. Halo Natalia

    aku lagi bingung juga soal airbnb
    jd fine aja ya ngajuin visa pakai bukti booking airbnb?
    lumayan bikin takut juga baca blog yg katanya harus pake dummy booking

  4. Pingback: Urus Visa Korea via Antavaya | nataliciousday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s